Di Publish Pada Tanggal : Jumat, 06 Januari 2017 06:15 WIB

Hujan Tak Henti, 4 Kecamatan di Pesisir Selatan Terendam Banjir

Painan, HanTer - Banjir, yang disebabkan hujan deras sejak Rabu malam (4/1), melanda empat kecamatan di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Sumbar). 
 
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pesisir Selatan, Prinurdin di Painan, mengatakan empat kecamatan tersebut yakni Bayang, Bayang Utara, IV Jurai dan Batang Kapas.
 
Ribuan rumah terendam banjir, yang terjadi pada jam 5.00 WIB dengan ketinggian air berkisar satu sampai dua meter. "Kami telah menurunkan tim guna secepatnya mengevakuasi korban," katanya, Kamis (5/1/2017). 
 
Ia menambahkan khusus di Bayang Utara, tim dilengkapi dengan alat berat untuk membuka akses jalan yang tertimbun longsor.
 
Sementara di Batang Kapas, tim dilengkapi dengan empat unit perahu karet untuk mengevakuasi korban yang terisolir akibat banjir.
 
Hingga saat ini pihaknya belum menerima adanya korban banjir yang meninggal dunia. 
"Mudah-mudahan dengan diturunkannya tim bisa meminimalisir dampak dari bencana ini," ujarnya. 
 
Ia mengimbau kepada masyarakat terutama pada empat daerah yang dilanda banjir untuk tetap waspada mengingat cuaca yang masih berpotensi hujan.
 
Selain itu ia juga mengimbau masyarakat agar segera melapor jika terjadi banjir sehingga bantuan bisa segera didatangkan. 
 
Sementara itu, seorang warga Bayang, Emil (30) mengatakan dampak dari hujan deras pada Rabu malam juga mengakibatkan jalan aspal yang tidak jauh dari rumahnya rusak akibat arus banjir. "Kami berharap tim dari kabupaten segera turun menangani bencana ini," katanya.
Pembukaan Hutan
Di tempat terpisah, peneliti lingkungan hidup dari Universitas Andalas Padang, Sumatera Barat, Dr Ardinis Arbain menyatakan bahwa pembukaan hutan di hulu sungai dan tingginya curah hujan menjadi pemicu terjadinya banjir di Kabupaten dan Kota Solok.
 
"Meski kedua daerah dataran tinggi, namun bila tidak adanya tanaman atau daerah tangkapan air di hulu, banjir potensial terjadi terlebih curah hujan cukup tinggi," katanya, Kamis.
 
Menurutnya, konservasi lahan di daerah tinggi "dari hutan menjadi perkebunan" telah menyebabkan hilangnya daerah tangkapan air.
 
"Bila kaitannya dengan banjir di Solok ada kemungkinan di hulu Sungai Batang Gawan atau Batang Lembang tersebut minim pepohonan untuk menahan air," tambahnya.
 
Dengan intensitas curah hujan yang tinggi dalam beberapa waktu terakhir, tidak terelakkan banjir hingga satu meter lebih akan terjadi.
 
Dia mencontohkan banjir bandang yang menimpa Kota Bandung, Jawa Barat, beberapa waktu lalu dikarenakan bergantinya fungsi hutan sebagai pelindung menjadi area perumahan.
 
Hal ini juga terjadi di Sumbar atau Kabupaten Solok tersebut, banyaknya perkebunan dan perumahan yang mengambil alih fungsi hutan lindung menjadikan air dengan mudahnya mengalir tanpa bisa ditahan. 
 
Terlebih bila dilihat drainase atau saluran air juga semakin sulit ditemukan di beberapa daerah. 
"Kondisi ini seharusnya menjadi perhatian pemerintah, swasta dan masyarakat sendiri sebelum melakukan konversi lahan," ujarnya. 
 


(Ant)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats