Di Publish Pada Tanggal : Selasa, 12 September 2017 17:17 WIB

Bahaya Penyakit Mematikan, KPA Tolikara Gencar Sosialisasikan Pencegahan HIV dan AIDS

Tolikara, HanTer - Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) hingga kini menjadi salah satu penyakit yang paling mematikan, bahkan belum ada sama sekali ditemukan obatnya. 
 
Bumi Cendrawasi termasuk yang tinggi dalam menghadapi masalah  HIV/AIDS di Indonesia. Hingga Merat 2016, di provinsi paling timur Indonesia ini tercatat 25.233 penderita HIV/AIDS. Populasi tertinggi penderita HIV/AIDS ada pada usia produktif (25 -59 tahun), sebanyak 14.544 atau lebih dari separoh penderita. Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA) Kabupaten Tolikara pun taktinggal diam, langkah strategis penanganan mulai dilakukan seperti sosialisasi bahaya penularannya.
 
Ketua Harian KPA Kabupaten Tolikara, Samuel Kogoya SH, MM, menyampaikan sosialiaasi informasi secara terus menerus soal HIV-AIDS merupakan awal dalam pencegahan penyakit tersebut. Dan dari tahun ketahun kasus HIV/AIDS di Tolikara cenderung menurun.
 
Data terkini dari penanganan ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) ditahun 2015 sekitar 233 orang turun menjadi 146 orang ditahun 2016. Ditahun 2017 turun lagi menjadi 59 orang. Sedangkan pasien yang positif mengidap HIV ditahun 2017 sekitar 71 orang yang sebelumnya berjumlah 219 ditahun 2015.
 
Bagi pelayanan KPA hal terpenting dalam sosialisasi adalah bagaimana memberikan pemahaman kepada masyarakat agar sadar akan bahayanya. Jika masyarakat dengan sukarela memeriksa kesehatannya, maka penderita HIV/AIDS bisa tetap hidup, produktif dan beraktivitas seperti orang normal lainya. 
 
"Asal selalu ( setiap hari tanpa putus putusnya ) meminum obat program ARV yang diberikan oleh tim VCT setempat. Karena itu, pihaknya punya tanggungjawab yang besar sebagai anak asli Tolikara,  dengan menyebarluaskan informasi pencegahan penyebaran virus HIV dan AIDS," kata Kogoya seperti keterangan diterima Harian Terbit, Selasa (12/9/2017). .
 
Untuk memberi pemahaman mengenai cara pencegahan, KPA  Kabupaten Tolikara pun bekerja sama dengan VCT dinas Kesehatan setempat dimana KPA melakukan sosialisasi, penyuluhan di distrik setiap minggu. dan langsung  pengambilan sampel darah dan pengobatan dilakukan oleh VCT dan team Dokter
 
 “Lewat ini juga terus mendorong semua pihak turut berperan dalam sosialisasi HIV-AIDS di Tolikara. Hingga tahun 2019 kami sudah menargetkan pemeriksaan kepada seluruh masyarakat di 46 distrik se kabupaten Tolikara. Dengan demikian kami bisa merelokasi, mempersempit  dan memutus mata rante penyebaran penyakit HIV/AIDS," terangnya.
 
Dia menjelaskan sosialisasi HIV-AIDS di Tolikara memang berjalan baik. Luasnya wilayah Tolikara dengan 46 distrik (kecamatan) dan 554 kampung (desa) perlu ekstra energi untuk menjangkaunya.
 
Disisi lain, ketersediaan obat ARV untuk para penyandang HIV/AIDS ( ODHA) perlu menjadi perhatian pemerintah. KPA Tolikara menilai, semua pihak di wilayahnya bersama stakeholder terkait berjuang bersama dalam meminimalisir penyebaran virus HIV/AIDS serta mendukung pencegahannya.
 


(Romi)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats