Di Publish Pada Tanggal : Sabtu, 13 Januari 2018 19:19 WIB

Ketua DPC Partai Gerindra: La Nyalla Gagal Lulus Diklat Hambalang!

Jakarta, HanTer - Pernyataan membabi buta bekas bakal calon gubernur Jawa Timur, La Nyalla Mahmud Mattalitti, terhadap Prabowo Subianto dan Partai Gerindra sontak membikin geram kader berlambang Kepala Garuda tersebut.
 
"La Nyalla kurang ajar berani menyerang Pak Prabowo Subianto dan Partai Gerindra tanpa bukti. Sikap La Nyalla itu karena dia gagal lulus Diklat Hambalang," kata Ketua DPC Partai Gerindra Jakarta Timur, Adi Kurnia Setiadi melalui pesan tertulisnya, Sabtu (13/1/2018). 
 
Dikatakannya, Diklat Hambalang yang berlokasi di Sentul, Bogor, Jawa Barat, merupakan kawah candradimuka untuk menggembleng kader-kader Partai Gerindra menjadi pemimpin masa depan Indonesia.
 
Adi juga menilai wajar jika Prabowo marah pada La Nyalla. Sebab, dalam proses pencalonan seseorang di Pemilu maupun Pilkada butuh biaya besar. Terutama soal dana saksi yang mengawal proses pencoblosan sampai penghitungan suara. 
 
"Mungkin ditanya mau nyalon tapi enggak punya duit, dia kader partai ketemu ketua DPD tiba-tiba mau nyalon tapi enggak ada duitnya, masak calon enggak ada duit, ya wajar marah," ujar Adi. 
 
La Nyalla juga semestinya memahami bahwa Prabowo merupakan orangtua di Partai Gerindra, sehingga sangat pantas apabila menegur atau menasehati kadernya.  "Aneh, sebagai bekas Ketua Umum PSSI La Nyalla nggak ngerti etika berorganisasi," ujar Adi. 
 
Adi juga mendukung langkah La Nyalla yang memilih keluar dari Partai Gerindra, karena kader yang haus kekuasaan semacam dia cuma bakal jadi benalu partai. 
 
Diketahui, La Nyalla mengaku dimintai uang saksi sejumlah Rp 40 miliar oleh Prabowo saat pencalonan pemilihan gubernur Jawa Timur 2018. Menurut Adi, jika permintaan itu benar, maka itu merupakan hal yang wajar dilakukan dalam Pilgub. 
 
"Kalaupun itu benar, sangat wajar karena kemenangan calon ketua daerah dalam Pilgub itu kuncinya adalah kekuatan para saksi di Tempat Pemungutan Suara (TPS)," cetus Adi. 
 
La Nyalla sebelumnya mengatakan, permintaan Prabowo itu disampaikan pada tanggal 9 Desember 2017, sekitar pukul 15.00 WIB di kediaman Prabowo di Hambalang, Sentul, Jawa Barat. Saat ditemui, Prabowo ditemani dua ajudannya yaitu Prasetyo dan Sugiarto. 
 
Menurut La Nyalla, Prabowo menyuruh dirinya memberikan uang itu sebelum tanggal 20 Desember 2017 agar dia bisa direkomendasikan Gerindra sebagai calon gubernur. La Nyalla mengatakan, dirinya sudah menyiapkan dana sebesar Rp 300 miliar, namun ia ngotot untuk memberikan setelah dirinya resmi didaftarkan ke KPU Jawa Timur. La Nyalla mengatakan Prabowo menolak permintaanya. "Marah-marah dia," ujarnya.
 
Jumlah TPS yang ada di 38 kabupaten atau kota di Jawa Timur berjumlah 68.511 TPS. Dibutuhkan tiga orang saksi untuk satu TPS. Jika satu orang saksi membutuhkan uang makan saksi sebesar Rp 200 ribu per orang, maka dibutuhkan dana Rp 41 milyar. Itu belum dihitung dengan saksi-saksi di tingkat Panitia Pemungutan Suara (PPS), Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), dan KPUD.
 


(romi)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats