Di Publish Pada Tanggal : Sabtu, 11 Februari 2017 22:40 WIB

Swaka Mundur dari Kepala Logistik Militer Sudan Selatan

Nairobi, HanTer - Letnan Jenderal Thomas Cirillo Swaka, selaku Kepala logistik militer Sudan Selatan, mengundurkan diri karena tidak dapat mengendalikan kekerasan yang dilakukan pasukan ke warga akibat sentimen etnis.
 
Pengunduran dirinya tersebut terkuak dari sebuah surat yang dibuatnya. Swaka merupakan perwira tinggi yang mengundurkan diri sejak mantan wakil presiden, Riek Machar melarikan diri setelah pendukungnya terlibat kerusuhan dengan tentara yang setia kepada Presiden Salva Kiir di Juba Juli lalu.
 
Surat pengunduran diri Swaka memperlihatkan keprihatinannya terhadap kemungkinan genosida. "Presiden Kiir beserta pasukan Dinkanya secara taktis dan sistematis mengubah Tentara Pembebasan Rakyat Sudan (SPLA) menjadi angkatan bersenjata yang memihak kepada etnis tertentu. Pemerintah terus meneror oposisi secara langsung atau tidak langsung," tulis Swaka.
 
Swaka mengatakan, militer, polisi, serta petugas keamanan lainnya secara sistematis merekrut anggota suku Dinka dari wilayah asal Presiden dan kepala staf angkatan bersenjata. "Anggota suku di luar itu dan warga Dinka yang tidak sejalan dengan agenda Presiden akan dimutasi ke wilayah pinggiran atau dinonaktifkan," tambahnya.
 
"Tentara dari suku Dinka secara sistematis ditugaskan dan ditempatkan di wilayah non-Dinka demi mendukung kebijakan perampasan lahan. Banyak tentara telah memperkosa dan membunuh warga serta membiarkan pasukan bersenjata dari suku tertentu melakukan penyiksaan serupa, bahkan membangun penjara rahasia. Kekerasan telah mewabah di Sudan Selatan," katanya.
 
Petinggi militer yang akrab dipanggil Cirillo itu cukup dihormati oleh komunitas internasional dan pemerintah negara Barat. Kata seorang pengamat di Nairobi, pengunduran diri itu akan dilihat sebagai bentuk protes Cirillo ke pemerintah.
 
Pemerintah cukup sering memecat jajarannya hanya karena sentimen terhadap etnis tertentu. Bahkan pemerintah menyalahkan pemberontak sebagai penyebab masalah. Meski demikian, pemerintah mengatakan tiap tentara yang terlibat kekerasan akan diadili. Presiden menyatakan, Senin, tiap tentara yang melakukan pemerkosaan akan ditembak.
 
Juru bicara militer, Brigadir Jenderal Lul Ruai Koang tidak dapat dihubungi untuk dimintai keterangan terkait surat pengunduran diri Swaka. Begitu juga dengan juru bicara Presiden tidak dapat dihubungi untuk dimintai tanggapan.
 
Konflik tengah terjadi di Sudan Selatan sejak 2013, dua tahun setelah negara itu berpisah dengan Sudan. Pertempuran terjadi setelah Kiir asal Suku Dinka memecat Machar dari suku Nuer. Machar sempat ditunjuk kembali sebagai wakil presiden selama beberapa pekan sebelum akhirnya bentrok kembali terjadi.
 
Kerusuhan di Sudan Selatan kerap berujung pada konflik antaretnis, menyebabkan tiga juta warga mengungsi. Bahkan 11 juta penduduknya terancam mengalami bencana kelaparan. Perserikatan Bangsa-Bangsa menilai pembunuhan massal nyaris terjadi di Sudan Selatan. Perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan pemerintah negara barat menuduh pasukan dua pihak yang berkonflik sebagai pelaku kekerasan.


(Hermansyah)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats