Di Publish Pada Tanggal : Selasa, 04 Juli 2017 14:23 WIB

Penyumbang Utama Inflasi Juni

Batalkan Kenaikan Tarif Listrik

Jakarta, HanTer – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Juni 2017 sebesar 0,69%, lebih tinggi dari periode sama tahun lalu sebesar 0,66 %. Namun begitu, sumbangan terbesar inflasi kali ini bukan lagi berasal dari sektor pangan, melainkan dari kenaikan tarif listrik 900 Volt Ampere (VA) akibat penyesuaian, disusul kemudian tarif transportasi. Karenanya pemerintah diminta untuk membatalkan kenaikan tarif listrik 900 VA dan tarif transportasi.
 
“Untuk mencegah inflasi yang lebih tinggi dikemudian hari, pemerintah harus membatalkan tarif listrik, tarif angkutan dan harga pangan. Kenaikan ini jelas membuat rakyat sengsara, juga menyebabkan daya beli masyarakat melemah,” kata pengamat kebijakan publik Zulfikar Ahmad kepada Harian Terbit,  Senin (3/7/2017).
 
Menurutnya, kenaikan tarif listrik menyusul dicabutnya subsidi untuk pemakaian listrik 900 VA jelas-jelas membuat rakyat semakin miskin. “Pengguna 900 VA sebagian besar rakyat kecil, sebaiknya pemerintah kembali memberikan subsidi. Untuk kepentingan rakyat saya kira subsidi tidak salah. Pemerintah jangan lagi menaikkan tarif listrik, BBM, gas dan lainnya,” ujar Zulfikar.
 
Inflasi
 
Sebelumnya, Kepala BPS Suhariyanto merinci, tarif listrik menyumbang 0,17 persen terhadap inflasi Juni sebesar 0,69 persen. Sementara kenaikan tarif angkutan sebesar 0,20% dengan rincian angkutan udara 0,12%, dan kenaikan tarif angkutan antar kota sebesar 0,08%.
 
Selain itu, Suhariyanto, menjelaskan pemicu inflasi paling dominan adalah kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan 1,27%, dengan sumbangan ke inflasi 0,23%. Adapun inflasi bahan pangan sebesar 0,69%, dengan andil terhadap inflasi Juni kecil, yaitu 0,14%. 
 
“Secara umum inflasi puasa dan lebaran 2017 jauh lebih terkendali dibanding tahun sebelumnya. Tapi ada catatan penyesuaian tarif listrik 900 VA sumbanganyannya 0,17%, tinggi,” kata Suhariyanto di Jakarta, Senin (3/7/2017).
 
Suhariyanto berharap penundaan kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) hingga Desember mendatang dapat menekan inflasi Juli-Desember. Apalagi, diketahui penundaan juga terjadi pada penyesuaian harga BBM dan gas elpiji 3 kilogram, seperti yang diputuskan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
 
Tidak hanya persoalan inflasi, berbagai penundaan kenaikan tarif tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan daya beli masyarakat. Dengan begitu, ia meyakini indikator konsumsi rumah tangga yang pada kuartal I 2017 kemarin hanya tumbuh 4,93 persen, akan lebih meningkat pada kuartal II ini.
 
Sementara itu, anggota Komisi XI DPR RI Donny Imam Priambodo mengatakan, penting bagi pemerintah untuk menjaga kenaikan dari unsur-unsur yang mempengaruhi inflasi. Selain kenaikan tarif listrik, harga bahan bakar minyak (BBM) dan LPG juga perlu dijaga agar tidak menjadi pemicu lonjakan inflasi.
 


(Safari)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus
free web stats