Di Publish Pada Tanggal : Senin, 10 Juli 2017 18:33 WIB

Indef: Stabilisasi Pangan Tidak Dongkrak Daya Beli

Jakarta, HanTer -  "Institute for Development of Economics and Finance (Indef)" menilai stabilisasi harga pangan untuk komoditas seperti beras, gula pasir, daging sapi dan minyak goreng tidak diikuti dengan meningkatnya daya beli masyarakat.
 
Direktur Indef Enny Sri Hartati di Jakarta, Senin (10/7/2017) mengatakan harga pangan selama musim Ramadhan dan Lebaran 2017 memang stabil, namun dengan harga yang tinggi yang ditunjukkan dengan menurunnya daya beli masyarakat.
 
"Ketika dibandingkan dengan hasil evaluasi dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis di bawah Kementerian Perdagangan, harga pangan stabil, tapi stabil tinggi," ucap Enny dalam diskusi di Kantor Indef Jakarta.
 
Enny menjelaskan harga pangan yang cenderung stabil tersebut berada di atas harga acuan penjualan konsumen. Artinya, upaya stabilisasi harga belum mampu memulihkan daya beli masyarakat.
 
Berdasarkan hasil pemantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) terhadap 160 pasar di Indonesia selama periode 9 September 2016 sampai 12 Juni 2017, harga sejumlah komoditas pangan masih cenderung lebih tinggi.
 
Harga beras medium di pasar lebih mahal 17 persen dari harga acuan, harga gula pasir lebih mahal 10,1 persen, harga daging sapi kualitas 1 lebih mahal 47 persen, harga daging sapi kualitas 2 lebih mahal 37 persen dan harga minyak goreng curah lebih mahal 19 persen dari harga acuan.
 
Ia berpendapat seharusnya ketika harga komoditas pangan stabil dengan harga normal dapat meningkatkan daya beli masyarakat. Dengan demikian, porsi pendapatan masyarakat dialokasikan lebih banyak kepada komoditas yang hanya mampu dikonsumsi.
 
Badan Pusat Statistik juga merilis bahwa harga pangan menunjukkan deflasi, salah satunya di Provinsi Jawa Timur, namun penjualan ritel di daerah tersebut juga tidak menunjukkan angka yang positif.
 
Indef juga mencatat Pemerintah meningkatkan anggaran yang signifikan untuk menargetkan program swasembada padi, jagung, kedelai dan gula dalam tiga tahun.
 
Anggaran belanja untuk keempat komoditas tersebut melonjak 61,7 persen dari Rp40,2 triliun pada 2014 menjadi Rp65 triliun pada 2017. Namun, tingginya alokasi anggaran tersebut ternyata dinilai belum optimal dalam mewujudkan kedaulatan pangan.
 


(Anugrah)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus
free web stats