Di Publish Pada Tanggal : Senin, 17 Juli 2017 22:30 WIB

Angka "Dwelling Time" Kembali Meningkat 3,5 Hari

Jakarta, Hanter— Angka dwelling time (waktu bongkar muat barang) di pelabuhan kembali naik. Pada semester I 2017, dwell time kembali menjadi 3,5 hari. Padahal, pada saat Menko Kemaritiman dijabat Rzal Ramli (2016) mampu ditekan menjadi 2,9 hari.

Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub, Antonius Tonny Budiono, berdalih, kenaikan angka dwelling time karena kenaikan arus barang, menyusul melambungnya kebutuhan masyarakat jelang Lebaran.

Sementara, peralatan untuk mengakomodir arus barang belum banyak, sehingga menambah panjang antrean. “Ini otomatis berdampak pada bertambahnya dwell time,” klaimnya, Senin.

Menurut Tonny, pihaknya sedang mengevaluasi implementasi di lapangan untuk kembali menekan angka dwell time. Jika ada permasalahan pada proses bongkar muat, dia berjanji, akan segera diperbaiki. Sanksi pun bakal dijatuhkan kepada petugas ketika ada persoalan administrasi.

Saat Menko Maritim dijabat Rizal Ramli selain angka dwelling time dibawah tiga hari, dia juga menghadirkan angkutan kereta api di Pelabuhan Tanjung Priok.

Rizal membenahi dwelling time setelah mendapat tugas khusus dari Presiden Joko Widodo untuk memangkas dwelling time dari sekitar 6-7 hari menjadi 4 hari. Kenyataannya, begitu Rizal menggebrak, Dwelling time menjadi 2,9 hari.

Sejak mendapat mandat dari Jokowi, Rizal Ramli memang langsung bergerak. Dia mengumpulkan para pemangku kepentingan (stakeholders) pelabuhan. Mereka antara lain PT Pelindo II (Persero), PT Kereta Api Indonesia (Persero), Ditjen Bea dan Cukai, Kementerian Perhubungan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, Badan Karantina, dan TNI Angkatan Laut.

Setelah mempelajari permasalahannya, Rakor menghasilkan tujuh langkah untuk memangkas waktu bongkar muat di pelabuhan. Pertama, memperbanyak jalur hijau bagi barang-barang ekspor-impor yang memenuhi persyaratan tertentu.

Kedua, meningkatkan biaya denda bagi (pemilik) kontainer yang telah melewati masa simpan di pelabuhan. Ketiga, membangun jalur kereta api sampai ke lokasi loading dan uploading peti kemas. Keempat, meningkatkan sistem teknologi informasi dalam pengelolaan terminal peti kemas.

Langkah kelima, menambah kapasitas crane (derek). Keenam, penyederhaan peraturan dan perizinan yang berlaku di pelabuhan yang saat itu lebih dari 124 perizinan. Ketujuh, memberantas mafia yang selama ini bermain di pelabuhan. Mereka inilah yang secara langsung ataupun tidak langsung telah membuat Tanjung Priok menjadi pelabuhan yang lamban, tidak efisien, dan berbiaya tinggi,” ungkapnya.

Tapi bukan Rizal Ramli namanya kalau sudah puas dengan kerja pas banderol. Dia ingin memberikan lebih bagi Jokowi, terlebih lagi bagi bangsanya. Beyond expectation, begitu orang ‘sekolahan’ berkata.

Jika obsesi dan kerja keras dia dan timnya menekan waktu bongkar muat di Tanjung Priok jadi 1,5 hari terwujud, maka dia telah berkontribusi besar bagi peningkatan efisiensi di ranah pembangunan ekonomi nasional. 

 

 


(Danial)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus
free web stats