Di Publish Pada Tanggal : Senin, 19 Maret 2018 22:15 WIB

Jual BBM Bersubsidi, Pertamina Klaim Rugi Rp3,9 Triliun

Jakarta, HanTer - Kenaikan harga minyak dunia yang tak sejalan dengan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di Tanah Air membuat PT Pertamina (Persero) mengalami kerugian hingga Rp3,9 triliun pada periode Januari-Februari 2018.

Hal itu disampaikan Direktur Pemasaran PT Pertamina M Iskandar‎ saat rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR RI, Senin (19/3/2018). Kerugian yang dimaksud adalah potensi kehilangan pendapatan (potential lost revenue) akibat menjual BBM dengan harga yang disesuaikan pemerintah.

“Potensial loss Januari-Februari penugasan Premium dan Solar tidak termasuk JBU (Jenis BBM Umum) di Jawa sebesar Rp3,49 triliun, kalau ditambah jual Premium di Jamali (Jawa, Madura dan Bali) mencapai Rp3,9 triliun," kata Iskandar.

Menurut dia, potensial loss ini akan semakin parah jika tidak ada penurunan harga minyak mentah dunia. Apalagi akan ada peningkatan penjualan BBM pada saat mudik Lebaran nanti. Dalam formula hitungan hingga akhir tahun, Ia menaksir potensial loss akan mencapai Rp24 triliun.

Ia menjelaskan, harga Premium dan Solar subsidi yang ditetapkan pemerintah sejak April 2016 sampai saat ini mengacu pada harga minyak dunia pada kisaran US$ 44 per barel, sedangkan harga minyak dunia sudah berada di level US$ 60 per barel. Sehingga, selisih harga ditanggung Pertamina.

"Estimasi sampai Desember, harga sama kurang lebih dikalikan sama. Belum tambahan 5-7 persen saat Lebaran karena Premium dan Solar meningkat. Potensi kerugian bisa Rp24 triliun," tuturnya.

Untuk periode April hingga Juni 2018, harga keekonomian Premium mencapai Rp 8.600 per liter. Ini dengan formula harga dasar yang dipakai yakni 103,92% dari Harga Indeks Pasar (HIP) bensin RON 88 ditambah biaya penyimpanan (storage).

Selain itu, turut disertakan biaya inventory, biaya angkut ke SPBU, dan margin SPBU sebesar Rp 830 per liter, dan ditambah 2% harga dasar. Sementara itu harga yang ditetapkan pemerintah hanya Rp 6.450 per liter.

Sedangkan harga Solar untuk periode yang sama mencapai Rp 8.350 per liter. Harga ini diperoleh dengan menggunakan penghitungan formula harga dasar dengan menggunakan rumus 102,38% dari HIP Minyak solar, lalu ditambah biaya penyimpanan, biaya inventory hingga biaya angkut ke SPBU dan margin SPBU sebesar Rp 900 per liter. "Kalau solar Rp8.350 seharusnya," ujar dia. 


(Alee)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus