Di Publish Pada Tanggal : Kamis, 28 Juni 2018 16:38 WIB

Begini Capaian Kinerja dan Rencana Strategis PT Saranacentral Bajatama

Jakarta, HanTer - Pada tahun 2017 adalah tahun pemulihan ekonomi Indonesia. Meski sempat tertahan pada semester satu 2017, pertumbuhan ekonomi nasional kembali menguat pada semester kedua. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2017 adalah sebesar 5,07%, meningkat jika dibandingkan dengan laju pertumbuhan ekonomi tahun 2016 sebesar 5,03%.
 
Penguatan pertumbuhan ini didorong oleh perbaikan kinerja ekspor dan peningkatan investasi oleh swasta. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat industri baja di Indonesia mengalami penguatan di tahun 2017, yang terutama didorong oleh maraknya pembangunan proyek infrastruktur. Industri baja diperkirakan akan terus tumbuh dengan rata‐rata 6% per tahun sampai dengan tahun 2025.
 
Dalam hal industri Baja Lapis Alumunium Seng (BjLAS), para pelaku industri optimistis pertumbuhan penjualan BjLAS sepanjang tahun 2017 bisa tembus 20% lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Penjualan baja Indonesia saat ini masih didominasi oleh permintaan dari sektor konstruksi, diikuti oleh sektor otomotif, sektor migas, shipbuilding, permesinan dan industri elektronik. Kemampuan suplai industri baja (crude steel) dalam negeri sebesar 6,8 juta ton per tahun. 
 
Karena itu, Indonesia masih harus mengimpor sebanyak 5,4 juta ton untuk memenuhi kebutuhan yang mencapai 12,94 juta ton per tahun. Kebutuhan baja yang meningkat setiap tahunnya harus diimbangi dengan tumbuhnya investasi baru di Indonesia, untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk baja impor. Indonesia masih memiliki potensi untuk tumbuh dengan kuat dan berkembang dari segi pembangunan infrastruktur dan peningkatan investasi. 
 
Hal ini pada gilirannya akan memberikan dampak positif terhadap industri baja nasional secara umum dan khususnya untuk Perseroan. Seiring perkembangan dunia usaha dan selaras dengan perbaikan kondisi perekonomian global dan nasional, PT Saranacentral Bajatama Tbk (“Perseroan” ) melakukan perubahan dan penyempurnaan yang berlandaskan pada Visi, Misi, dan Nilai‐Nilai Perusahaan. 
 
Saat ini, di dalam struktur industri baja secara global, Perseroan merupakan salah satu pemain di industri midstream, khususnya industri pelapisan baja. Di masa mendatang, Perseroan mempunyai aspirasi untuk menjadi produsen baja yang lebih terintegrasi.
 
Perseroan terus berkarya dan melakukan inovasi dalam setiap lini produksi, Saat ini Perseroan memproduksi 3 (tiga) jenis produk baja lapis, yaitu: Baja Lapis Seng (BjLS), Baja Lapis Aluminium Seng (BjLAS) dan Baja Lapis Aluminium Seng Berwarna (SARANACOLOR) yang diproduksi dengan menggunakan mesin‐mesin berteknologi tinggi karena dilengkapi dengan Teknologi NOF (Non‐Oxidation Furnace) yang dapat menghasilkan produk dengan kualitas jauh lebih baik dibandingkan produk yang dihasilkan dengan menggunakan mesin berteknologi konvensional. Tahun 2017 Perseroan berhasil membukukan kenaikan penjualan bersih sebesar 24,5% menjadi Rp1.22 triliun dari sebelumnya Rp978,84 miliar di tahun 2016. 
 
Penjualan yang dihasilkan oleh Perseroan pada tahun 2017 merupakan kontribusi dari penjualan BjLS sebesar 49,8%, BjLAS sebesar 45,5%, Saranacolor 4,2%, sedangkan 0,4% merupakan non‐ produksi. Perseroan pada tahun 2017 harus menghadapi tantangan naiknya harga CRC di pasar global karena produsen utama baja dunia, yakni China, mengurangi suplai baja jenis CRC. 
 
Akibatnya harga jadi semakin mahal, yang menyebabkan beban pokok penjualan meningkat tajam sehingga Perseroan membukukan laba kotor yang jauh lebih rendah di tahun 2017. Di samping itu, nilai tukar rupiah pada pada kuartal akhir 2017 cenderung melemah. Hal ini menyebabkan Perseroan membukukan kerugian kurs mata uang asing – bersih sebesar Rp5,1 miliar di tahun 2017. Sebagai hasilnya, Perseroan mencatat rugi tahun berjalan sebesar Rp22.98 miliar pada tahun 2017. Dari sisi total aset, Perseroan juga mencatat jumlah aset yang turun tipis sebesar 3,7% menjadi Rp946,45 miliar di tahun 2017.
 
RENCANA STRATEGIS 2018
 
Perekonomian Indonesia tumbuh lebih kuat pada level 5,07% di tahun 2017, peningkatan dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi 2016 sebesar 5,03%. Selain kenaikan harga komoditas, investor juga optimis tentang penguatan fundamental ekonomi Indonesia dan hasil kerja pemerintah pusat (terutama terkait pembangunan infrastruktur). 
 
Semua ini tercermin dalam peningkatan peringkat kredit yang diberikan oleh Fitch Ratings kepada Indonesia dari BBB‐ ke BBB (stable outlook). Sama halnya, industri baja Indonesia juga mengalami penguatan di tahun 2017, yang terutama didorong oleh penguatan pada sektor konstruksi dan industri otomotif. Berbekal strategi yang kami jalankan dalam menghadapi tantangan dan kondisi di tahun 2017 dan melihat peluang bisnis di tahun‐tahun mendatang, Perseroan optimis bahwa kinerja pada tahun 2018 akan jauh lebih baik dari apa yang dicapai di tahun sebelumnya. berbagai upaya yang dilakukan di tahun‐tahun sebelumnya akan membuahkan hasil. 
 
Perseroan telah menetapkan strategi yang utamanya adalah penerapan efisiensi disegala kegiatan operasional, khususnya efisiensi dalam penggunaan bahan baku, bahan penolong dan energi, serta pengembangan yang difokuskan untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas yang akan memberi dampak pada peningkatan kinerja Perseroan. Dengan melakukan itu semua, yang didukung oleh penerapan tata kelola yang baik dan sistem pengendalian yang kokoh dalam rangka melindungi aset‐aset Perseroan, untuk meningkatkan nilai para pemegang saham, maka Perseroan akan memperlihatkan kinerja yang semakin baik di tahun‐tahun mendatang.
 


(Danial)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus
free web stats