Di Publish Pada Tanggal : Jumat, 14 April 2017 07:15 WIB

Tremor, Si “Pembunuh” Produktivitas Penderita

Jakarta, HanTer – Jangan sepelekan gerakan gemetar yang terjadi berulang dan tidak terkontrol pada anggota tubuh. Bisa jadi, Anda menderita tremor yang diakibatkan gangguan pada otak. Penyakit ini umumnya diderita oleh kalangan lanjut usia (lansia), tapi tak menutup kemungkinan pada usia produktif.

Dokter Spesialis Saraf Parkinson’s and Movement Disorder Center (PMDC), dr. Frandy Susaia, SpS mengatakan, jenis tremor sangat beragam. Salah satunya adalah essential tremor (ET) yang terjadi ketika anggota tubuh sedang bergerak dan berkurang jika tubuh beristirahat.

“Ini jenis penyakit progresif, yang jika didiamkan seiring bertambahnya usia akan semakin parah. Tremor sangat mengganggu produktifitas pekerja, karena gemetar terjadi sepanjang Anda beraktivitas. Tapi jika sedang diam, seperti orang normal lainnya,” kata Frandy dalam media gathering Siloam Hospital Kebon Jeruk (SHKJ), Kamis.

Dijelaskan, ET terjadi akibat komunikasi yang abnormal antara daerah-daerah tertentu dari otak kecil, thalamus, dan batang otak. Biasanya ET muncul setelah usia 40 tahun dan memburuk seiring bertambahnya usia.  

Pengobatan

Sayangnya, lanjut Frandy, tak ada obat untuk menyembuhkan kebanyakan tremor, tapi perawatan atau pengobatan yang memberikan bantuan dari gejala mungkin dapat membantu dalam meningkatkan kualitas hidup. “Ini termasuk obat yang bisa meringankan tremor, suntikan botox, dan operasi otak. (Tapi), tidak setiap pengobatan atau prosedur efektif untuk setiap orang,” ungkapnya.

Umumnya, sambung dia, langkah pertama dari pengobatan tremor adalah pemberian obat oral. Pasien harus mencoba dua atau tiga jenis obat sebelum menemukan salah satu obat terbaik untuk mengurangi gejala tremor. Pengobatan ini hanya dilakukan jika tremor mengganggu pekerjaan atau melakukan tugas-tugas sehari-hari.

“Saat ini, tidak ada obat untuk menyembuhkan ET. Untuk obat-obatan oral, pengurangan 50% dari tremor keparahan sudah dianggap baik. Mencapai tujuan ini kadang-kadang dapat memakan waktu, jadi harus bersabar,” katanya.

Operasi

Ditempat yang sama, Dokter Spesialis Bedah Saraf PMDC, Dr. dr. Made Agus Mahendra Inggas, SpBS menuturkan, tremor bisa dicegah dengan mengubah pola hidup yaitu menghindari kafein, alkohol, stres, kelelahan, dan gula darah rendah.

Namun jika sudah terlanjut mengalami tremor, Made mengatakan disamping pemberian obat jangka panjang yang memiliki efek samping, tindakan lainnya bisa dilakukan dengan operasi deep brain stimulation (DBS).

DBS adalah operasi untuk mengatasi tremor, kaku, dan gerak yang lambat. ”Teknik operasi ini dilakukan melalui penanaman elektroda pada area tertentu di otak bagian dalam. Elektroda tersebut dihubungkan dengan kabel ke baterai yang diletakkan di dalam dada sebagai sumber arus listrik,” ungkapnya.

Rata-rata pasien merasakan peningkatan perbaikan tremor sekitar 80-90% setelah dioperasi pada keadaan tanpa obat. ”Keuntungan dari DBS adalah tidak merusak jaringan otak dan tremor akan membaik secara signifikan sehingga penderita dapat melakukan aktivitas sehar-hari kembali


(Arbi)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats