Di Publish Pada Tanggal : Jumat, 07 April 2017 04:30 WIB

Sekolah Swasta Dinilai Lebih Maju Terapkan Pendidikan Karakter

Jakarta, HanTer – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengaku prihatin masih minimnya penerapan pendidikan karakter di sekolah-sekolah di Indonesia. Hal itu diperparah dengan tafsiran keliru yang diamanatkan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).
 
"UU Sisdiknas itu jelas mengamanatkan pendidikan karakter dimulai SD sampai SMP. Itu sebabnya ada pembaruan kurikulum termasuk K-13 (Kurikulum 2013) yang intinya untuk pembentukan karakter," kata Menteri Muhadjir dalam sambutannya di Global Sevilla Pulo Mas, Jakarta, Rabu (5/4/2017).
 
Sayangnya, sambung mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang tersebut, pembentukan karakter di jenjang pendidikan sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) selama ini terpecah-pecah. Padahal, dalam UU Sisdiknas merupakan satu-kesatuan. Alhasil, implementasi pendidikan karakter menjadi tidak optimal.
 
Sebagai informasi, siswa jenjang pendidikan SD dan SMP diwajibkan mendapatkan 70 persen pendidikan dasar berupa pembentukan karakter, 30 persen pengetahuan. Untuk sekolah swasta seperti Global Sevilla menurut Muhadjir sebenarnya sudah selesai pembentukan karakter.
 
Apa yang dilakukan Global Sevilla dengan menerapkan kurikulum nasional, Cambridge International Curriculum, dan International Primary Curriculum sudah berada di jalur yang benar. Apalagi sekolah SPK (Satuan Pendidikan Kerja Sama) ini sejak awal telah mengintegrasikan pengembangan karakter dan prestasi akademik.
 
"Kalau saya lihat, sekolah swasta lebih siap menjalankan program pembentukan karakter di mana jam belajarnya bisa delapan jam. Berbeda dengan negeri yang hanya lima sampai enam jam," ujarnya.
 
Menanggapi ini, Direktur Sekolah Global Sevila Robertus Budi Setiono menyatakan komitmennya untuk  menjalankan program pemerintah dalam pembentukan karakter dan pengembangan kualitas pendidikan di Indonesia.
 
"Kami mengajarkan kepada siswa bagaimana menghargai perbedaan. Di Global Sevilla, kami sangat beragam, dari kultur hingga agama. Kami mengajarkan kepada siswa untuk saling bantu membantu, salah satunya dalam mempersiapkan perayaan hari raya," katanya.
 
Selain itu, sambung dia, salah satu bentuk kesiapan Global Sevilla adalah dengan membangun gedung SMP dan SMA yang nantinya bisa digunakan sebagai pusat studi kebinekaan, pendidikan karakter, dan pusat praktik mindfulness atau metode pengajaran yang membawa anak-anak pada kekinian.
 
Bangunan tersebut, tambah Omi Komariah Madjid, istri almarhum Prof Dr Nurcholish Madjid yang merupakan pendiri sekolah Global Sevilla, akan terdiri dari empat lantai, terbagi dalam ruang kelas SMP dan SMA, laboratorium, dan ruang pengembangan seni budaya Indonesia berupa gamelan.
 
Salah satu bangunan baru ini diperuntukkan sebagai pusat studi agama (worship center), di mana anak-anak dan guru-guru bisa menjalankan ibadahnya masing-masing dan mempraktikkan rasa saling menghormati antar agama serta kepercayaan. “Ini menjadi fokus kami untuk menanamkan semangat toleransi dan pluralisme di kalangan generasi muda sejak dini," tuturnya.
 
Omi mengatakan, pentingnya pengembangan karakter di sekolah, selain prestasi akademik. Pendidikan karakter, menurutnya tidak hanya diterapkan dalam satu mata pelajaran (Mapel) saja. Akan tetapi diulas di setiap Mapel.
 
"Kami mengajarkan kepada siswa bagaimana menghargai perbedaan. Di Global Sevilla, kami sangat beragam, dari kultur hingga agama. Kami mengajarkan kepada siswa untuk saling bantu membantu, salah satunya dalam mempersiapkan perayaan hari raya," katanya. 
 


(Arbi)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats