Paramiliter Irak Minta Pendukungnya Mundur dari Kedubes As
Foto : Pengunjuk rasa merusak bilik keamanan di depan Kedutaan Amerika Serikat, saat mereka berkumpul untuk mengutuk serangan udara ke pangkalan milik Hashd al-Shaabi/Kataib Hizbullah (pasukan paramiliter), di Baghdad, Irak.

Baghdad, HanTer - Kelompok paramiliter yang memprotes serangan udara AS di Irak, meminta pendukungnya agar mundur dari perimeter Kedutaan Besar AS di Baghdad pada Rabu (1/1/2020), meski tidak ada tanda untuk segera membubarkan diri.

Sebelumnya di pengujung tahun 2019, kedutaan besar AS diserbu oleh massa yang geram atas serangan udara AS terhadap kelompok yang didukung Iran, yang menewaskan sedikitnya 25 petempur. Pada Rabu massa melemparkan batu ke kedubes AS sementara pasukan keamanan menembakkan gas air mata dan juga granat kejut untuk membubarkan massa.

Pasukan Mobilisasi Populer (PMF), payung kelompok yang sebagian besar terdiri atas paramiliter Syiah menyebutkan massa harus membubarkan diri sekarang sebab "pesan mereka telah didengar," dan untuk menghormati pemerintah Irak, yang berupaya "menjaga wibawa negara."

Aksi protes tersebut menandai perubahan baru dalam perang bayangan antara Washington dan Teheran yang bermain di Timur Tengah dan menimbulkan pertanyaan atas keberadaan militer AS yang berkelanjutan di Irak. Presiden AS Donald Trump, yang kembali mencalonkan diri untuk masa jabatan kedua, pada Selasa mengancam akan membalas Iran, tetapi kemudian mengatakan dirinya tidak ingin terlibat perang.

Amerika Serikat meluncurkan serangan udara mematikan terhadap markas milisi Kataib Hizbullah yang didukung Iran pada Minggu, sebagai aksi balasan atas serangan misil yang menewaskan seorang kontraktor AS di markas Irak utara.