Iran Siap Kerjasama

Zarif: PBB Harus Memfasilitasi Pembicaraan Intra-Afghanistan

Hermansyah
Zarif: PBB Harus Memfasilitasi Pembicaraan Intra-Afghanistan
Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif

Jakarta, HanTer - Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan jika PBB harus memainkan peran utama dalam memfasilitasi pembicaraan intra-Afghanistan, serta mengungkapkan kesiapan Republik Islam untuk kerjasama dalam hal ini.

Berbicara di Konferensi Afghanistan secara virtual di Jenewa pada hari Selasa (24/11/2020), Zarif mengatakan dialog dimiliki dan dipimpin oleh orang Afghanistan sendiri dan harus menyertakan Taliban.

Dia juga menekankan bahwa pembicaraan harus mempertahankan pencapaian pasca-2001, yang mencakup konstitusi demokratis, hak rakyat [Afghanistan] untuk menentukan nasib sendiri melalui pemilihan, hak-hak agama, etnis minoritas, hak-hak perempuan serta memerangi terorisme.

Perwakilan dari pemerintah di Kabul dan mereka dari kelompok militan Taliban mengadakan putaran pertama dari negosiasi intra-Afghanistan yang sangat ditunggu-tunggu di ibukota Qatar, Doha pada 12 September lalu. Pembicaraan itu juga dihadiri oleh politisi dari Afghanistan, organisasi internasional dan Amerika Serikat. Perundingan Doha itu digelar sehari setelah peringatan 19 tahun serangan teroris 11 September di Amerika Serikat yang memicu invasi militer ke Afghanistan.

Pembicaraan intra-Afghanistan direncanakan berlangsung pada Maret, tetapi berulang kali ditunda karena perjanjian pertukaran tahanan yang dibuat sebagai bagian dari kesepakatan Amerika Serikat-Taliban yang ditandatangani pada Februari.

Di bagian lain dalam pidatonya, Zarif mengatakan warga Afghanistan telah mengalami pertumpahan darah yang dilakukan terutama dari luar selama lebih dari 40 tahun, sementara pendekatan militer gagal membawa perdamaian di negara yang dilanda perang itu. “Kehadiran pasukan asing menjadi masalah yang berkepanjangan. Keluarnya pasukan asing yang bertanggung jawab dari Afghanistan akan menjadi langkah positif menuju perdamaian yang berkelanjutan," ucapnya.

Seperti diketahui, Departemen Pertahanan AS dilaporkan telah diperintahkan untuk memangkas jumlah pasukan di Afghanistan dari 4.500 menjadi 2.500, dan jumlah pasukan di Irak dari 3.000 menjadi 2.500 pada 15 Januari 2021, beberapa hari sebelum Presiden Donald Trump meninggalkan jabatannya.

Zarif lebih lanjut menggambarkan kemiskinan dan pengangguran sebagai lahan "subur" untuk ekstremisme, terorisme, dan perdagangan narkoba. Ia menyebut bahwa perdamaian tidak akan berkelanjutan jika orang Afghanistan harus berjuang untuk bertahan hidup.

Dia menunjuk Iran menampung lebih dari tiga juta pengungsi Afghanistan meskipun perang ekonomi AS yang kejam melawan Republik Islam. Dia mengatakan sekitar 470.000 siswa Afghanistan belajar di sekolah dan 22.000 lainnya sedang dilatih oleh universitas di seluruh negeri.

"Iran menghubungkan Afghanistan ke dunia luar melalui pelabuhan Chabahar, yang terletak di provinsi tenggara Iran Sistan dan Baluchestan," katanya, seraya menambahkan bahwa kereta api Khaf-Herat akan diresmikan dalam beberapa hari mendatang.

Zarif mengatakan pembangkit listrik Iran menyediakan listrik untuk Afghanistan dan mencatat bahwa negara itu dapat berbuat lebih banyak di bidang energi. "Tetapi alih-alih memfasilitasi, AS melalui terorisme ekonominya yang menargetkan warga Iran dan Afghanistan, menghalangi kerja sama tersebut," kata menteri luar negeri itu.

Dia mengkritik donor internasional karena mengejar "pendekatan yang sangat cacat" ke Afghanistan, mendesak komunitas global untuk menempatkan orang Afghanistan di atas pertimbangan lain.