Pesawat Komersil Rusia dengan 28 Penumpang Jatuh Ke Laut
Foto : Pesawat An-26 yang putus kontak dan dikabarkan jatuh ke laut di timur Rusia

Jakarta, HanTer - Kontak terputus dengan sebuah pesawat penumpang yang membawa lebih dari dua lusin orang di semenanjung Kamchatka di timur Rusia, kata pejabat setempat, Selasa (6/7/2021).

Valentina Glazova, selaku juru bicara kantor kejaksaan transportasi lokal mengatakan jika pesawat An-26 terbang dari kota utama Kamchatka Petropavlovsk-Kamchatsky ke kota pesisir Palana ketika menghilang dan gagal mendarat sesuai jadwal.

Dia menyebut 29 orang berada di dalam pesawat, termasuk 23 penumpang dan enam awak. "Upaya pencarian dan penyelamatan sedang berlangsung. Semua yang diketahui saat ini, apa yang mungkin dilakukan, adalah bahwa komunikasi dengan pesawat terputus dan tidak mendarat," katanya.

Dia mengatakan pesawat itu telah dioperasikan oleh perusahaan penerbangan lokal di Kamchatka, semenanjung yang luas di pantai Pasifik Rusia yang populer di kalangan wisatawan petualangan karena margasatwanya yang melimpah dan gunung berapi yang masih aktif.

Kantor berita Rusia mengutip pejabat setempat yang mengatakan sebagian besar penumpang berasal dari Palana, sebuah daerah berpenduduk sekitar 3.000 orang, termasuk empat pejabat pemerintah daerah dan kepala kota Olga Mokhiryova.

Pemerintah Kamchatka menerbitkan daftar 28 orang yang berada di dalam pesawat, termasuk Mokhiryova dan satu anak yang lahir pada tahun 2014. Dikatakan bahwa komunikasi dengan pesawat telah terputus 9 km dari bandara Palana.

Mengutip sumber kementerian darurat, kantor berita melaporkan bahwa pencarian pesawat sedang berlangsung dengan radius 15-25 km di sekitar bandara, dengan fokus di Laut Okhotsk. "Ada bukti objektif bahwa pesawat itu jatuh ke laut," kata seorang sumber kepada kantor berita TASS.

Pemerintah Kamchatka mengatakan semenanjung itu memiliki lima pesawat An-26 yang melayani titik-titik terpencilnya. Kementerian transportasi regional dan perusahaan penerbangan lokal mengatakan pesawat itu dalam kondisi baik dan telah melewati pemeriksaan keselamatan rutin.

Pesawat An-26, yang diproduksi dari tahun 1969 hingga 1986 selama era Soviet dan masih digunakan di seluruh bekas Uni Soviet untuk transportasi sipil dan militer, telah terlibat dalam sejumlah kecelakaan dalam beberapa tahun terakhir.

Empat orang tewas pada bulan Maret ketika sebuah pesawat An-26 yang digunakan oleh militer bekas Soviet Kazakhstan jatuh saat mendarat di sebuah bandara di kota terbesar di negara itu, Almaty. Pada September 2020, 26 orang tewas di Ukraina ketika sebuah pesawat militer An-26 jatuh di kota timur laut Kharkiv selama penerbangan pelatihan.

Pesawat An-26 juga terlibat dalam kecelakaan militer Rusia dalam beberapa tahun terakhir. Pada Maret 2018, 39 orang tewas ketika sebuah pesawat angkut An-26 jatuh saat mendarat di sebuah bandara di Suriah. Setahun sebelumnya, seorang tentara tewas ketika sebuah An-26 jatuh dalam penerbangan pelatihan di dekat kota Saratov, Rusia tengah.

Rusia yang mengklaim telah meningkatkan catatan keselamatan lalu lintas udaranya dalam beberapa tahun terakhir, namun perawatan pesawat yang buruk dan standar keselamatan yang lemah masih tetap ada. Terbang di Rusia juga bisa berbahaya di wilayah terpencil negara yang luas dengan kondisi cuaca yang sulit seperti Kutub Utara dan Timur Jauh.

Kecelakaan pesawat penumpang besar terakhir terjadi pada Mei 2019, ketika sebuah Sukhoi Superjet milik maskapai penerbangan Aeroflot jatuh dan terbakar di landasan pacu bandara Moskow, menewaskan 41 orang.

Rusia juga sering mengalami insiden udara non-fatal yang mengakibatkan penerbangan dialihkan dan pendaratan darurat, biasanya berasal dari masalah teknis.

Pada Agustus 2019, sebuah penerbangan Ural Airlines yang membawa lebih dari 230 orang melakukan pendaratan ajaib di ladang jagung Moskow setelah sekawanan burung tersedot ke dalam mesin tak lama setelah lepas landas.