Setahun Setelah Ledakan Beirut, UNICEF Sebut Anak-anak Masih dalam Kesulitan
Foto : Kerusakan di lokasi ledakan pelabuhan Beirut, Lebanon pada 5 Agustus 2020 lalu

Jakarta, HanTer - Setahun setelah ledakan dahsyat di pelabuhan Beirut, satu dari tiga keluarga di Lebanon memiliki anak yang masih menunjukkan tanda-tanda trauma, kata badan PBB untuk anak-anak, UNICEF.

“Satu dari tiga keluarga (34 persen) memiliki anak yang masih menunjukkan tanda-tanda tekanan psikologis ,” kata UNICEF, mengutip survei Juli terhadap 1.200 keluarga.

"Dalam kasus orang dewasa, angkanya mencapai hampir satu dari dua (45,6 persen)," tambahnya dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada malam ulang tahun pertama ledakan itu.

Ledakan 4 Agustus 2020 menewaskan lebih dari 200 orang, melukai sedikitnya 6.500 lainnya dan merusak sebagian besar ibu kota.

Sejak itu, Lebanon juga harus bergulat dengan pandemi virus Corona dan krisis ekonomi yang meningkat yang dicap oleh Bank Dunia sebagai salah satu yang terburuk di planet ini sejak pertengahan abad ke-19.

“Satu tahun setelah peristiwa tragis itu, kehidupan anak-anak tetap sangat terpengaruh. Keluarga-keluarga itu telah berjuang untuk pulih dari dampak ledakan pada waktu yang paling buruk di tengah krisis ekonomi yang menghancurkan dan pandemi besar,” kata Yukie Mokuo, perwakilan UNICEF di Lebanon.

Sebuah survei UNICEF pada bulan Juli menemukan bahwa hampir semua keluarga yang meminta bantuan setelah ledakan pelabuhan Beirut masih membutuhkan bantuan, terutama bantuan uang tunai dan makanan, kata badan tersebut.

"Banyak yang kehilangan pekerjaan karena ledakan itu belum mendapatkan pekerjaan," tambah UNICEF, ketika Lebanon bergulat dengan kemiskinan yang melonjak, inflasi yang merajalela, dan kekurangan barang-barang pokok mulai dari obat-obatan hingga bahan bakar.

“Nyawa anak-anak terancam karena krisis yang meningkat membuat sebagian besar keluarga tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka,” kata Mokuo.