Rusia Memulai Latihan Skala Besar di Crimea
Foto : Ilustrasi tentara Rusia di Crimea

Jakarta, HanTer - Rusia telah meluncurkan latihan militer skala besar di Crimea dengan partisipasi pasukan udara negara itu, kata layanan penyiaran Zvezda kementerian pertahanan, Senin (27/9/2021). Latihan, yang dijadwalkan berlangsung dari Senin hingga Rabu di tempat latihan Opuk itu, akan melibatkan hingga 2.000 prajurit.

Sepanjang latihan, pasukan akan merebut garis yang menguntungkan dan berlatih operasi pertahanan di mana latihan penembakan langsung akan dilakukan bersama dengan unit rudal anti-pesawat, anti-tank, penyembur api, artileri dan penembak jitu. Manuver defense akan dilakukan pada siang dan malam hari.

Selama tahap akhir latihan, angkatan bersenjata akan berlatih operasi ofensif dengan melibatkan tank tempur T-72B3, sistem artileri mortir swagerak 2S9 Nona 120mm, dan howitzer D-30 122-mm.

Sebelumnya, angkatan Laut Rusia bermanuver dengan rudal-rudalnya di lepas pantai Crimea di Laut Hitam. Aksi merudal target itu berlangsung di saat Ukraina dan Amerika Serikat (AS) menggelar latihan tempur gabungan.

Latihan di Ukraina yang melibatkan AS dan pasukan NATO lainnya akan berlangsung hingga 1 Oktober 2021. Latihan tersebut menyusul latihan perang besar-besaran yang digelar Rusia dan Belarusia awal bulan ini yang begitu mengkhawatirkan Barat.

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan militernya menggunakan sistem pertahanan rudal pantai Bastion, sistem pertahanan anti-kapal dan permukaan-ke-permukaan mobile yang canggih.

Rekaman video yang dirilis kementerian itu menunjukkan sebuah divisi terlihat melakukan serangan dengan rudal yang dipasang di truk dalam sebuah simulasi serangan. Kru menembak dari posisi tersembunyi dan menggunakan drone untuk melacak kelompok kapal musuh.

Menteri Pertahanan Sergei Shoigu mengatakan sistem rudal Bastion dapat menghantam target laut pada jarak 350 km (219 mil) dan target darat pada jarak 450 km (281 mil).

Hubungan Kiev dengan Moskow jatuh di level terendah pada tahun 2014 setelah Rusia dianggap mencaplok semenanjung Crimea dari Ukraina dan mendukung separatis pro-Rusia di wilayah Donbass, Ukraina timur. Konflik tujuh tahun dengan separatis telah menewaskan lebih dari 13.000 orang.