Dalih Inggris Bertemu Taliban, Cegah Afghanistan Berubah Menjadi Sarang Terorisme
Foto : Mullah Abdul Ghani Baradar, wakil pemimpin dan perunding Taliban, dan anggota delegasi lainnya menghadiri konferensi perdamaian Afghanistan di Moskow, Rusia, 18 Maret 2021 lalu.

Jakarta, HanTer - Meskipun telah berulang kali menekankan bahwa mereka tidak akan mengakui pemerintah Taliban di Afghanistan, namun pemerintah Inggris mengumumkan pada hari Selasa (5/10/2021), bahwa para pejabat telah bertemu dengan para pemimpin gerakan di Kabul, untuk mencegah negara itu menjadi inkubator bagi teroris ekstremis.

Seorang juru bicara pemerintah mengatakan bahwa Perdana Menteri Inggris Boris Johnson bertemu dengan utusan khusus di sana, Simon Gass, dan Kuasa Usaha Inggris di Afghanistan, Martin Longden, setelah mereka mengadakan pembicaraan dengan Taliban.

Dia menambahkan bahwa mereka yang bersangkutan bertemu dengan anggota terkemuka gerakan tersebut, termasuk Mawlawi Amir Khan, Mullah Abdul Ghani, Bardar Akhund, dan Mawlawi Abdul Salam Hanafi.

Pertemuan itu juga membahas kemungkinan Inggris memberikan bantuan kepada Afghanistan untuk mengatasi krisis kemanusiaan, menekankan pentingnya mencegah negara itu menjadi inkubator terorisme. Mereka juga menekankan perlunya jalan keluar yang aman bagi mereka yang ingin meninggalkan negara itu.

Pertemuan itu juga membahas masalah perlakuan terhadap minoritas dan hak-hak perempuan dan anak perempuan, menekankan bahwa pemerintah Inggris terus melakukan segala daya untuk memastikan perjalanan yang aman bagi mereka yang ingin pergi, dan menekankan komitmennya untuk mendukung rakyat Afghanistan.

Patut dicatat bahwa Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab telah mengkonfirmasi pada awal bulan lalu bahwa negaranya tidak mengakui pemerintah yang dipimpin Taliban di Afghanistan, tetapi pada saat yang sama dia mengindikasikan bahwa negaranya sedang berurusan dengan fakta-fakta baru di negara itu.

Berbicara selama kunjungan ke Pakistan pada 5 September, dia mengatakan bahwa sekitar 15.000 orang tidak dapat dievakuasi dari Kabul tanpa kerjasama dengan Taliban, yang merebut Kabul pada 15 Agustus.

Menteri Inggris juga menambahkan pada saat itu bahwa London memiliki minat yang jelas terhadap masa depan Afghanistan.

Seperti diketahui, gerakan Taliban menguasai ibu kota, Kabul, akhir Agustus lalu, setelah Presiden Afghanistan Ashraf Ghani melarikan diri dari negara itu, dan penarikan pasukan AS dan NATO dari negara itu selesai.

Kampanye kilat pada saat itu, untuk merebut kekuasaan, menimbulkan kekhawatiran masyarakat internasional, bahwa negara itu akan terjun lagi ke dalam terorisme atau kekerasan.