Data Menyebutkan Suntikan Booster mRNA Hasilkan Respons Antibodi yang Lebih Kuat
Foto : Ilustrasi vaksin Covid-19

Jakarta, HanTer - Orang yang menerima vaksin Covid-19 Johnson & Johnson akan memiliki respons antibodi penawar yang lebih kuat jika mereka mendapatkan suntikan mRNA sebagai dosis kedua, Axios melaporkan pada hari Selasa waktu setempat, mengutip seseorang yang telah melihat data yang dikumpulkan oleh Institut Kesehatan Nasional AS (NIH).

Melalui hasil tersebut, J&J pun telah meminta Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) untuk menyetujui suntikan vaksin dosis tunggalnya sendiri sebagai dosis penguat.

Penasihat FDA akan mempertimbangkan kebutuhan pada hari Jumat mendatang. "NIH akan menyajikan data mix-and-match ke panel FDA pada hari Jumat," kata Axios.

Ada batasan pada data NIH, menurut laporan itu. Antibodi penetralisir hanya mencegah virus memasuki sel dan bereplikasi, dan laporan itu mengatakan tidak jelas berapa lama respons akan bertahan.

Vaksin dua dosis yang dibuat oleh Pfizer Inc dan mitra Jermannya BioNTech dan Moderna Inc menggunakan teknologi mRNA.

Pakar luar regulator kesehatan juga akan membahas perlunya dosis tambahan vaksin Moderna pada hari Jumat itu.

Para ilmuwan di FDA mengatakan Moderna belum memenuhi semua kriteria badan tersebut untuk mendukung penggunaan dosis penguat vaksin Covid-19 , mungkin karena kemanjuran dua dosis pertama suntikan tetap kuat.