Di Tengah Kekurangan Uang Tunai, PBB Bentuk Dana Perwalian untuk Afghanistan
Foto : Orang-orang Afghanistan duduk di samping karung bantuan makanan yang didistribusikan oleh WFP di Kandahar 

Jakarta, HanTer - PBB membentuk dana perwalian khusus untuk menyediakan uang tunai yang sangat dibutuhkan langsung ke Afghanistan melalui sistem yang memanfaatkan dana donor yang dibekukan sejak pengambilalihan Taliban pada Agustus.

Bertujuan untuk menyuntikkan likuiditas ke rumah tangga, sekaligus memungkinkan bertahan hidup di musim dingin dan tetap di tanah air meskipun terjadi gejolak, Perserikatan Bangsa-Bangsa membentuk dana perwalian khusus untuk menyediakan uang tunai kepada Afghanistan.

Achim Steiner, administrator Program Pembangunan PBB (UNDP), pada hari Kamis (21/10/2021) mengatakan Jerman, kontributor pertama, telah menjanjikan 50 juta euro ($58 juta) untuk dana tersebut, dan telah berhubungan dengan donor lain untuk memobilisasi sumber daya.

Menurutnya, UNDP telah menghitung biaya kegiatan yang harus ditanggung selama 12 bulan pertama sekitar $667 juta. “Yang kita saksikan bukan hanya sebuah bangsa dan negara di tengah gejolak politik; apa yang juga kita saksikan adalah ledakan ekonomi. Kita harus turun tangan, kita harus menstabilkan ekonomi kerakyatan dan, selain menyelamatkan nyawa, kita juga harus menyelamatkan mata pencaharian,” katanya dalam konferensi pers di Jenewa.

“Karena jika tidak, kita memang akan menghadapi skenario melalui musim dingin ini dan tahun depan di mana jutaan dan jutaan orang Afghanistan tidak dapat tinggal di tanah mereka, di rumah mereka, di desa mereka dan bertahan hidup. Implikasinya tidak sulit untuk dipahami,” tambahnya.

Sebelumnya, Dana Moneter Internasional mengatakan pada hari Selasa lalu bahwa ekonomi Afghanistan akan mengalami kontraksi hingga 30 persen tahun ini dan ini kemungkinan akan semakin memicu krisis pengungsi yang akan mempengaruhi negara-negara tetangga, Turki dan Eropa.

Pengambilalihan Taliban menyebabkan miliaran aset bank sentral dibekukan dan lembaga keuangan internasional menangguhkan akses ke dana, meskipun bantuan kemanusiaan terus berlanjut. Bank kehabisan uang, pegawai negeri tidak dibayar dan harga pangan melonjak.

Steiner mengatakan tantangannya adalah untuk menggunakan kembali dana donor yang telah dialokasikan untuk Afghanistan, di mana Taliban, otoritas de facto, tidak diakui.

“Diskusi selama beberapa minggu terakhir telah difokuskan pada bagaimana kami menemukan cara untuk dapat memobilisasi sumber daya ini mengingat ledakan ekonomi yang sekarang berlangsung dan komitmen berulang masyarakat internasional untuk tidak meninggalkan rakyat Afghanistan,” katanya. .

Kanni Wignaraja, direktur biro regional UNDP untuk kawasan Asia Pasifik, mengatakan uang tunai akan diberikan kepada warga Afghanistan yang dipekerjakan dalam program pekerjaan umum, seperti program pengendalian kekeringan dan banjir, dan hibah yang diberikan kepada usaha mikro.

"Penghasilan dasar sementara akan dibayarkan kepada warga Afghanistan yang rentan. Upaya di sini adalah mencoba memastikan bahwa mata uang lokallah yang terus menggerakkan ekonomi lokal. Dan dengan melakukan itu, itu juga menjaga ekonomi makro dari kehancuran total,” katanya.

“Ya, sistem perbankan sangat rapuh, masih ada sedikit kehidupan yang tersisa di dalamnya,” pungkas Kanni Wignaraja.