Tokayev Berjanji Ungkap Dalang Dibalik Kerusuhan Kazakhstan
Foto : Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev

Jakarta, HanTer - Berbicara pada pertemuan puncak virtual luar biasa CSTO pada hari Senin (10/1/2022), Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev berjanji untuk mengungkapkan kepada dunia bukti tambahan dari agresi teroris terhadap negaranya yang menyebabkan kerusuhan dari demonstrasi damai lantaran kenaikan harga bahan bakar LPG.

Tokayev juga menekankan bahwa tuntutan pengunjuk rasa damai telah didengar dan dipenuhi oleh negara. Namun aksi damai itu berujung pada kerusuhan yang melibatkan kelompok militan bersenjata yang tujuannya adalah untuk menggulingkan pemerintahan.

"Demonstrasi dihasut oleh teroris dengan dukungan asing," ucap Tokayev, meskipun protes tidak menunjukkan pemimpin atau organisasi yang jelas.

Presiden Kazakh menambahkan bahwa "tatanan konstitusional" di negara itu telah dipulihkan, dan "operasi anti-teroris skala besar" di negara itu akan segera selesai, bersama dengan misi CSTO.

Komite Keamanan Nasional mengatakan Senin bahwa "titik api ancaman teroris" di negara itu telah "dinetralisir." Komite juga mengatakan kepada kantor berita Rusia Interfax bahwa pihak berwenang membebaskan musisi terkenal Kirgistan Vikram Ruzakhunov, yang penangkapannya atas dugaan partisipasinya dalam kerusuhan itu memicu kemarahan di negara tetangga Kirgistan.

Ruzakhunov ditunjukkan dalam sebuah video di televisi Kazakh yang mengatakan bahwa dia telah terbang ke negara itu untuk mengambil bagian dalam protes dan dijanjikan $200. Dalam video itu, tampaknya diambil dalam tahanan polisi, wajah Ruzakhunov memar dan dia memiliki luka besar di dahinya.

Kementerian Luar Negeri Kyrygzstan telah menuntut pembebasan Ruzakhunov, dan pihak berwenang negara itu pada hari Senin berusaha untuk membuka penyelidikan atas tuduhan penyiksaan.

Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin menggemakan sentimennya dan menyebut kerusuhan itu sebagai serangan terhadap negara dan tindakan agresi yang didalangi dari luar negeri.

"Kami memahami bahwa peristiwa di Kazakhstan bukan yang pertama dan bukan upaya terakhir untuk mencampuri urusan dalam negeri negara kami dari luar," kata Putin di KTT tersebut. Hermansyah