Pendapatan Negara Turun Rp1.276,9 T, Gede: Menteri Jokowi Tak Bekerja dengan Baik

Alee
Pendapatan Negara Turun Rp1.276,9 T, Gede: Menteri Jokowi Tak Bekerja dengan Baik
Gede Sandra

Jakarta, HanTer - Menurunya pendapatan negara sebesar Rp1.276,9 triliun bukan hanya disebabkan adanya pandemi Covid-19, melainkan karena buruknya kinerja menteri-menteri bidang ekonomi pemerintahan Joko Widodo-Ma’ruf Amin.
 
“Penurunan itu karena menteri ekonomi tidak bekerja dengan baik. Krisis sebenarnya adalah krisis fiskal atau krisis pendapatan negara. Pendapatan negara tetap turun karena perekonomian tidak bergerak, meskipun stimulus pemerintah sudah dikucurkan,” kata pengamat ekonomi Gede Sandra kepada Harian Terbit, Senin (23/11/2020). 

Gede mengatakan, ekonomi tidak bergerak akibat dari pertumbuhan kredit yang sangat rendah.  Pertumbuhan kredit yang sangat rendah disebabkam terjadinya fenomena "crowding out effect" dalam perekonomian kita.

Dikatakan, crowding out effect terjadi tatkala dana dari perbankan malah terserap ke surat utang negara (SUN) yang diterbitkan pemerintah, bukan terserap untuk kredit. Wajar dana pihak ketiga lari ke surat utang karena yield yang ditawarkan 2% lebih tinggi dari bunga deposito perbankan.

“Bunga tinggi ini juga ternyata semakin membebani APBN. Rasio beban bunga sudah di angka 26%, dari yang biasanya rasio 10 tahun terakhir di bawah 16%,” paparnya.

“Inilah dia salah kebijakan pemerintah: penerbitan surat utang berbunga tinggi, yang menyebabkan ekonomi tidak bergerak dan APBN terbebani. Bila terus begini,  Indonesia akan lambat keluar dari resesi,” ujar Gede.

Menurun

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebutkan realisasi pendapatan negara hingga 31 Oktober 2020 sebesar Rp1.276,9 triliun atau 75,1 persen dari target perubahan APBN dalam Perpres 72/2020 yaitu Rp1.699,9 triliun.

Sri Mulyani menuturkan pendapatan tersebut turun 15,4 persen (yoy) dibandingkan periode sama 2019 yaitu sebesar Rp1.508,5 triliun yang tumbuh 1,2 persen dari Oktober 2018.

“Kita mengalami kontraksi 15,4 persen,” kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Senin.

Sri Mulyani menuturkan pendapatan negara turun karena penerimaan perpajakan terkontraksi hingga 15,6 persen (yoy) yaitu Rp991 triliun atau 70,6 persen dari target perubahan APBN dalam Perpres 72/2020 Rp1.404,5 triliun. 

#ABPN   #menteri   #jokowi