Ekonomi Indonesia Tidak Bergerak, SMI Melempar Tanggungjawab Salahkan COVID-19

Safari
Ekonomi Indonesia Tidak Bergerak, SMI Melempar Tanggungjawab Salahkan COVID-19

Jakarta, HanTer - Ekonom konstitusi Defiyan Cori mengatakan, pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (SMI) atas kondisi ekonomi terburuk selama 150 tahun seolah menyalahkan keadaan pandemi Covid-19. Padahal, kondisi ekonomi Indonesia sejatinya juga tidak bergerak sama sekali selama hampir 6 tahun terakhir. 

Dengan pernyataan itu, lanjut Defiyan, tampak sekali Sri Mulyani ingin melempar tanggungjawab melalui alasan pandemi Covid-19 yang tengah melanda sebagian besar negara. 

"Namun, tidak semua negara juga mengalami kondisi ekonomi terburuk selama masa pandemi Covid-19, seperti negara-negara di kawasan Asia Tenggara, yaitu Laos, Kamboja dan Vietnam yang mampu mencapai pertumbuhan ekonomi positif," kata Defiyan Cori kepada Harian Terbit, Minggu (11/4/2021).

Laos, sambung Defiyan, dimasa pandemi pada Tahun 2020 mampu mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 0,2 persen. Sementara itu, Vietnam tumbuh sebesar 2,91 persen untuk setahun penuh, atau lebih tinggi dibandingkan dengan estimasi median 2,8 persen dalam survei yang dilakukan oleh Bloomberg.

"Artinya, pandemi Covid-19 hanya berpengaruh sebesar 2-3 persen saja terhadap jalannya perekonomian kedua negara tersebut. Sedangkan Indonesia dalam masa pandemi Covid-19 terjadi kemerosotan ekonomi sebesar -2,07, yang berarti berpengaruh sebesar 6-7 persen lebih mempengaruhi capaian pertumbuhan ekonomi kuartalan maupun tahunan 2020," jelasnya.

Defiyan memaparkan, agar ekonomi Indonesia tidak buruk, Sri Mulyani harus keluar dari kerangka pemikiran text book thinking. Oleh karena itu dia bisa melakukan perubahan paradigmatik sistem ekonomi nasional melalui reformulasi kebijakan ekonomi arus utama.

"Sri Mulyani juga melakukan penganggaran pembangunan bangsa dan negara sesuai Pasal 33 UUD 1945," tegasnya.

Menyesalkan

Sementara itu, pengamat kebijakan publik dari Political and Public Policy Studies (P3S) Jerry Massie menyesalkan pernyataan Sri Mulyani yang hanya ngomong kondisi ekonomi terburuk selama 150 tahun, tapi tanpa inovasi dan solusi untuk membuat kondisi ekonomi Indonesia semakin membaik. Oleh karena itu patut dipertanyakan apa saja yang dilakukan Sri Mulyani sebagai penerima penghargaan Menteri terbaik dari World Bank dan IMF tapi gagal membangkitkan ekonomi Indonesia yang negara sedang terpuruk.

"Coba belajar ke Marie Muhammad yang berjuluk "Mr Clean" saat menjabat Menkeu pada tahun 1996 pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 7,8 persen dan econimic growth (pertumbuhan ekonomi) 1995 mencapai 8,2 persen," jelasnya.

Sri Mulyani, sambung Jerry, juga bisa belajar dari Menteri Keuangan terbaik dunia DR JB Sumarlin dan 3 kali sebagai Menkeu Prof Ali Wardhana. Kondisi ekonomi Indonesia saat ini sangat ironis, karena era 90-an Indonesia berjuluk "Macan Asia" tapi kini ekonomi Indonesia menjadi 'Macan ompomg Asia'. 

Sejak 150 Tahun

Diketahui, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut pertumbuhan ekonomi tahun 2020 merupakan yang terburuk sejak 150 tahun terakhir. Tercatat, ada 170 negara di dunia yang mengalami kontraksi akibat Covid-19.

Hal ini membuktikan Covid-19 tidak memandang bulu. Semua negara dipaksa untuk memformulasikan kebijakan yang sesuai dan extraordinary. Kebijakan harus menanggulangi masalah di bidang kesehatan dan berefek pada pemulihan ekonomi.

“Sebanyak 170 negara mengalami kontraksi ekonomi, dan ini (kondisi ekonomi 2020) adalah kondisi terburuk dalam 150 tahun terakhir,” kata Sri Mulyani dalam webinar IAIE, Selasa (6/4/2021).

Menurutnya, Indonesia termasuk satu dari 170 negara yang mengalami kontraksi. Sepanjang tahun 2020, ekonomi RI mencatat terkontraksi -2,07 persen. Kontraksi dimulai pada kuartal II 2020 yakni -5,3 persen.

Jika dilihat dari tingkat keparahannya, Indonesia masih lebih baik dari negara-negara lain, seperti negara di lingkaran G20, negara ASEAN, hingga negara-negara Islam.