Kementan Siap Bayar Asuransi Jika Sawah Lahan Rawa Gagal Panen
Foto : Menteri Pertanian Amran Sulaiman saat melakukan panen padi hasil sawah lahan rawa di Desa Jejangkit Muara, Barito Kuala

Barito Kuala, HanTer - Kementerian Pertanian (Kementan) siap membayar ganti rugi petani jika sawah lahan rawa di Barito Kuala, Kalimantan Selatan mengalami kegagalan panen. Kementan akan membayar akibat gagal panen baik ketika tanaman diserang hama atau pun lahannya mengalami kebanjiran. Dengan pembayaran klaim asuransi tersebut maka petani tidak perlu takut jika panennya yang gagal tidak akan dibayar.

"Ini (gagal panen) nanti kita asuransikan. Kalau terjadi gagal panen. Apakah karena hama atau banjir maka akan diganti seperti yang terjadi di pulau Jawa. Kami siapkan kurang lebih 1 juta hektar pertahunnya. Untuk asuransi," ujar Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat panen padi hasil sawah lahan rawa di Desa Jejangkit Muara, Barito Kuala, Kalsel, Kamis (18/10/2018).

Amran menegaskan, petani yang akan mengikut asuransi petani gagal panen tidak sulit. Petani cukup membayar Rp36 ribu/hektar permusim tanam. Atau hanya 20 persen dari setiap 1 hektarnya. Karena Kementan akan membayar 80 persen dari premi asuransi tersebut. Jika hasil panen gagal atau puso (minimal 70 persen) maka petani akan mendapatkan klaim kerugian sebesar Rp6 juta. Asuransi petani ini sudah berjalan 1 tahun.

"Saya yakin petani mau ikut, ini sudah berjalan 1 juta hektar," tegasnya.

Saat ini Kementan berkomitmen untuk mewujudkan kemandirian pangan. Salah satunya adalah dengan optimalisasi lahan rawa sebagai lahan suboptimal untuk pertanian produktif. Kementan  bertekad menjadikan lahan rawa sebagai penjamin ketersediaan pangan masa depan, ditengah pesatnya pertumbuhan penduduk dan menyusutnya lahan pertanian.Optimalisasi lahan rawa adalah bagian dari komitmen pemerintahan Jokowi-JK untuk menjaga kebutuhan pangan dengan meningkatkan produktivitas pertanian.

Amran menegaskan, optimisme kemandirian pangan bukan tanpa alasan karena lahan rawa di Indonesia cukup besar namun masih dipandang sebelah mata. Dari data Kementan terlihat luas lahan rawa di Indonesia diperkirakan mencapai 34,1 juta hektare yang terdiri dari sekitar 20 juta hektare lahan rawa pasang surut, dan lebih dari 13 juta hektare lahan rawa lebak. Lahan ini tersebar rersebar di 18 provinsi, atau 300 kabupaten/kota.

Dari jumlah itu, 9,52 juta hektare diantaranya bisa dikembangkan untuk pertanian. Potensi ini lebih luas dibandingkan lahan sawah irigasi yang hanya seluas 8,1 juta hektare. Kendala terbesar pemanfaatan lahan rawa terdahulu adalah genangan maupun kekeringan, namun saat ini dapat diatasi dengan pengelolaan tata air dan teknologi penataan lahan.

"Kita buktikan, dengan teknologi, lahan rawa yang dulunya hanya menghasilkan asap saat kemarau, dan tergenang saat hujan kini bisa dipakai petani untuk menghasilkan pangan," ujarnya.
.
Amran menunjukkan, bahwa upaya konversi lahan rawa menjadi lahan pertanian ini telah berhasil dikembangkan seluas salah satunya di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, dan ditargetkan akan ada 4.000 hektare lahan rawa di Kalimantan Selatan hingga akhir tahun 2018 nanti yang sudah jadi lahan pertanian produktif. Pembukaan lahan rawa ini dilengkapi dengan pembangunan irigasi dan penerapan mekanisasi pertanian modern.

Sejumlah tantangan seperti menjaga level air dilakukan dengan pompanisasi, begitu juga pengapuran untuk mengatasi kadar asam yang tinggi, dan beberapa intervensi untuk percepatan lembusukan jerami. Optimalisasi lahan rawa juga tidak terlepas dari penggunaan varietas unggul baru (VUB) padi yang adaptif untuk rawa, dipadukan dengan teknologi budidaya yang tepat. Sebanyak 35 varietas padi unggul adaptif lahan rawa pasang surut dan rawa lebak dengan berbagai sifat keunggulan termasuk yang banyak dikembagkan antara lain inbrida padi rawa (Inpara) yaitu Inpara 2, Inpara 3, Inpara 8 dan Inpara 9, dan padi sawah irigasi/tadah hujan yang juga ditanam varietas adalah Inpari 32, Inpari 40 dan Inpari 42 Agritan.