PT ASI Diduga Persulit Enam Nasabah; Dana Tak Bisa Kembali
Foto :

Jakarta, HanTer - PT Anugerah Sentra Investama (ASI) diduga telah sengaja menolak melakukan redemption all unit atau penebusan kembali produk reksadana Sentra Ekuitas Berkembang (SEB) yang mereka jual kepada nasabah dan melakukan redemption sebagian unit tanpa instruksi nasabah. Akibatnya, para berinisial JEK, FH, L, HLK, HH, dan THS  mengalami kerugian dan tak bisa mendapatkan dana mereka kembali.

Pemegang kuasa enam  nasabah, Rony dalam keterangan tertulis, Kamis (22/7/2021) menyebutkan enam nasabah membeli produk reksadana PT ASI pada rentang waktu 2018-2019 dengan nilai antara Rp300 juta sampai Rp4 miliar.

"JEK melakukan subscription atau pembelian produk reksadana total senilai Rp300 juta. FH membeli total senilai Rp550 juta. L membeli total senilai Rp600 juta. HH membeli total senilai Rp 4 miliar. HLK melakukan pembelian total senilai Rp400 juta. Dan, THS membeli produk reksadana total senilai Rp1,5 miliar," ujarnya. 

Diuraikan pada 20 Januari 2020, JEK, FH, L, HH dan HLK sudah mengajukan redemption all unit atau penjualan kembali semua unit dalam reksadana Sentra Ekuitas Berkembang kepada PT ASI. Pengajuan redemption all unit tersebut dilakukan di Kantor PT ASI yang berada di Ruko Cempaka Mas Blok M1 No.48 Jalan Letjen Soeprapto, Sumur Batu, Kemayoran, Jakarta Pusat. 

Formulir redemption all unit kelima nasabah tersebut diterima oleh staff PT ASI bernama Riska dan kelima nasabah diberikan tanda terima oleh staff tersebut. 

"Sesuai Peraturan Otoritas Jaksa Keuangan (POJK), PT ASI sebagai Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) wajib melaksanakan redemption paling lambat dalam waktu tujuh hari setelah konfirmasi penjualan diterbitkan ( paling lambat 2 hari setelah form redemption all unit diterima )
Namun redemption semua unit tersebut ternyata tidak dilaksanakan oleh PT ASI sebagaimana ketentuan dalam POJK. Bahkan sampai Juli 2021, atau lebih dari 1,5 tahun sejak formulir diajukan nasabah, redemption semua unit tersebut tidak dilaksanakan PT ASI. Dengan begitu para nasabah mengalami kerugian ( karena turunnya harga NAV ) serta nasabah tidak mendapatkan dananya kembali," ujarnya.

  
Beritikad Buruk

Rony menjelaskan berdasarkan penuturan para nasabah, PT ASI sebagai PUJK diduga sudah beritikad buruk dari awal untuk tidak melaksanakan redemption. Hal itu terlihat upaya mereka untuk ‘menenangkan’ nasabah agar tidak melakukan redemption sejak Desember 2019. 

"Sekedar diketahui, nasabah-nasabah PT ASI sejak Desember 2019 sebenarnya sudah mulai banyak mengajukan redemption semua unit," tambahnya.

Pada Januari 2020, tegas Rony dibuat WhatsApp Grup (WAG). WAG ini beranggotakan nasabah, marketing PT ASI, Direktur PT ASI, Firdaus dan katanya lawyer PT ASI yaitu Taufik Nugraha.

"Melalui WAG baik Firdaus maupun Taufik Nugraha memberikan informasi mengenai keadaan PT ASI, yakni redemption all unit harus seizin OJK & PT ASI disuspend oleh OJK sampai batas waktu yang tidak ditentukan. 
Faktanya, informasi itu tidak benar adanya," ujarnya.

Rony menegaskan atas dasar itu, pada 28 April 2021, para nasabah melalui pemegang kuasa mereka, Ronny, mengajukan surat kepada OJK. Surat tersebut ditujukan kepada bagian  Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen dan Pengawasan Pasar Modal. 

Pihak OJK kepada Ronny mengaku sudah memberitahu PT ASI. Namun Manager Investasi tersebut sampai kini belum memenuhi kewajibannya.

Palsukan Tanda Tangan

Rony dalam keterangannya menegaskan selain beritikad tidak baik untuk tidak melaksanakan redemption, PT ASI juga diduga telah melakukan tindak pidana berupa pemalsuan tanda tangan nasabah. Hal itu karena PT ASI ternyata diam-diam mengirimkan sebagian dana nasabah melalui bank kustodian. Dana tersebut seakan-akan atas adanya redemption sebagian unit dari nasabah. 

"Tidak hanya JEK dan empat temannya yang mengajukan redemption semua unit pada 20 Januari 2020, PT ASI juga ternyata diduga membuat redemption palsu atas nama nasabah TH. Nama terakhir ini sebenarnya belum mengajukan redemption, namun sebagian kecil dananya cair seakan-akan ia telah mengajukan redemption sebagian kecil unit. Padahal ia tak pernah menandatangani formulir permohonan redemption sebagian unit," ujarnya.

Adanya dugaan membuat redemption palsu tersebut terlihat dalam surat yang dikirimkan Ronny kepada OJK pada 21 Juli 2021 lalu. Dalam surat tersebut, kuasa enam nasabah PT ASI ini menyampaikan bahwa para nasabah memberikan kuasa kepada dirinya tak pernah mengajukan redemption sebagian unit. Atas dasar itu, Ronny meminta OJK menindak PT ASI.

Tanggapan PT ASI

PT ASI sebagai PUJK sudah dikonfirmasi langsung melalui Firdaus selaku Direktur PT ASI. Namun ia tidak bersedia menjawab perihal redemption JEK dan 5 temannya. 

Ia hanya menyarankan untuk bertanya kepada pengacara PT ASI bernama Taufik Nugraha. Melalui apliksi pesan WhatApps, Firdaus pun memberikan nomor telepon Taufik. Namun Taufik saat dihubungi konfirmasi wartawan tidak menjawab.

Sebagai catatan pihak PT ASI menjual produk reksadana dengan iming-iming return tetap atau imbal hasil pasti. Return yang ditawarkan berkisar 10% - 12 % dgn periode investasi 6 dan 12 bln.

Bisa jadi nasabah tertarik menginvestasikan dananya di PT ASI karena fixed return tersebut,  karena masih banyak MI² di Indonesia dengan  nama besar dan track record kinerja yang lebih baik. Bukti di lapangan nasabah merugi diatas 50 persen. Alasan karena COVID jadi banyak harga saham yg turun.  Sepertinya MI² lain yang "kerjanya benar" tidak mengalami penurunan sedrastis itu.