Ekonom: SMI Tak Miliki Konsep Sistem Ekonomi Ala Indonesia
Foto : Defiyan Cori. (Ist)

Jakarta, HanTer - Ekonom Konstitusi, Defiyan Cori mengatakan, menstatus quokan pemikiran ekonomi liberalisme-kapitalisme, apalagi sampai mengunjungi patung Adam Smith di Edinburgh, Skotlandia semakin menunjukkan bahwa Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (SMI) tidak memiliki konsep dan paradigma sistem ekonomi ala Indonesia.

“Semakin membuktikan hipotesis dan tuduhan banyak pihak, terutama yang berkiblat pada konstitusi ekonomi Pasal 33 UUD 1945 bahwa Sri Mulyani Indrawati diduga hanya kaki tangan asing,” kata Defiyan kepada Harian Terbit, Selasa (9/11/2021).

Seperti diketahui, mengakhiri kunjungan kerja menghadiri acara COP26 di Glasgow, Skotlandia, Menkeu Sri Mulyani menyempatkan berkeliling  di Edinburgh melihat patung tokoh ekonomi liberal Adam Smith yang dikenal sebagai pelopor ilmu ekonomi modern dan salah satu tokoh sistem ekonomi kapitalisme. Mulyani sempat berswafoto di patung Adam Smith.

"Pagi tadi sebelum ke AirPort untuk pulang, saya sempat jalan kaki menikmati kota Edinburgh yang indah- dengan sejarahnya yang panjang, tua, dan luar biasa," kata Sri Mulyani seperti dikutip dalam posting-an di akun Instagram miliknya, Kamis (4/11).

“Apalah arti ilmu pengetahuan dengan seabrek gelar akademis, namun tidak pernah menemukan alternatif pemikiran sistem ekonomi yang lebih modern dan maju setelah abad ke-18 berlalu, bahkan masih menggunakan konsep perpajakan yang berasal dari kehidupan primitif,” ujar Defiyan.

Menurutnya, pembangunan dengan berbagai prioritas dan program kerja ditujukan untuk membangun peradaban di masa depan, sangat naif kalau masih menggunakan teori ekonomi yang berasal dari peradaban masa lalu yang telah usang ditengah dinamika kehidupan masyarakat.

“Apalagi selalu mengandalkan pembiayaan pembangunan secara massif dari utang, akan semakin mengokohkan ketergantungan ekonomi melalui jebakannya dan tidak leluasa atau independen menjalankan agenda perekonomian secara mandiri tanpa intervensi lembaga donor dan negara pemberi utang,” papar Defiyan. (Alee)