Modal Asing Kabur dari Bursa Saham dan Surat Utang Rp 2,8 Triliun dalam Sepekan, Ada Apa Ini?
Foto : Ilustrasi

Jakarta, HanTer - Investor asing masih melanjutkan aksi jual aset di pasar keuangan domestik di tengah kekhawatiran inflasi global yang terus meroket, terutama di Amerika Serikat dan Cina. Bank Indonesia (BI) mencatat dana asing kabur Rp 2,79 triliun dalam sepekan terakhir.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan terdapat aksi jual neto di pasar Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 2,39 triliun. Jual neto di pasar saham Rp 390 miliar.

"Berdasarkan data setelmen sejak awal tahun ini sampai minggu kedua November 2021, terdapat nonresiden jual neto Rp 16,01 triliun," kata Erwin dalam keterangan resminya, Jumat (12/11).

Dana asing yang keluar pada pekan ini memang lebih kecil dibandingkan pada pekan lalu tetapi pada pekan ini aksi jual neto terjadi baik di pasar obligasi ataupun saham.

Pada pekan pertama (1-5 November), BI melaporkan modal asing kabur Rp 12,66 triliun. Jual neto di pasar saham sebesar Rp 13,08 triliun. Namun pada saat yang sama, terdapat aksi beli neto Rp 420 miliar di pasar SBN.

Pada pekan terakhir Oktober, secara keseluruhan tedapat modal asing keluar sebesar Rp 780 miliar. Terjadi jual neto di pasar SBN sebesar Rp 4,32 triliun, tetapi beli neto di pasar saham Rp 3,54 triliun.

BI juga melaporkan tingkat premi risiko investasi atau credit default swap (CDS) Indonesia tenor lima tahun per 11 November naik ke level 84,27 basis poin (bps). Lebih tinggi dari 79,58 bps pekan lalu.

Imbal hasil atau yield SBN tenor 10 tahun terpantau naik pada 12 November menjadi 6,19%. Kinerja ini menyusul yield US Treasury tenor 10 tahun yang juga naik ke level 1,55% sehari sebelumnya.

Sekalipun terdapat aliran modal asing, rupiah berhasil ditutup menguat ke level Rp 14.219 per dolar AS pada perdagangan pasar spot sore ini.

Kurs Garuda menguat 0,78% dibandingkan posisi penutupan pekan lalu Rp 14.331. Sentimen penguatan tampaknya didorong perbaikan ekonomi domestik sekalipun tekanan inflasi global masih memanas.

Rilis sejumlah data ekonomi pekan lalu tampaknya masih memberi optimisme terhadap fundamental ekonomi domestik.