Realisasi Pembiayaan Investasi Baru 52 Persen dari Target APBN
Foto : Ilustrasi. (Ist)

Jakarta, HanTer - Menteri Keuangan Sri Mulyani (Menkeu), menyebutkan realisasi pembiayaan investasi telah mencapai Rp96,6 triliun sejak 1 Januari hingga 31 Oktober 2021.

"Pembiayaan investasi mengalami lonjakan yang sangat tinggi karena beberapa terutama BUMN yang perlu mendapatkan perhatian selain pembiayaan investasi di dana abadi yang dilakukan pemerintah," kata Sri Mulyani dalam Konferensi Pers APBN KiTa November 2021 secara daring di Jakarta, Kamis (25/11/2021).

Dengan demikian, realisasi pembiayaan investasi tersebut telah mencapai 52,4 persen dari target APBN yang sebesar Rp184,5 triliun atau tumbuh 234,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yakni Rp28,9 triliun.

Ia memerinci pembiayaan investasi tersebut diberikan untuk Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) senilai Rp20 triliun, Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI) Rp20 triliun, Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan (PPDPP) Rp16,62 triliun, dan Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) Rp11,12 triliun.

"Untuk BPUI diberikan agar bisa menyelesaikan permasalahan Jiwasraya dan LMAN diberikan untuk pembebasan lahan proyek strategis nasional," ungkap Sri Mulyani.

Ia menambahkan pembiayaan investasi juga telah diberikan kepada PT Hutama Karya Rp6,21 triliun, PT Pembangkit Listrik Negara (PLN) senilai Rp5 triliun, PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) Rp2,25 triliun, dan Lembaga Dana Kerja Sama Pembangunan Internasional (LDKPI) Rp2 triliun.

Kemudian, untuk PT PAL Indonesia Rp1,28 triliun, PT Pelindo III Rp1,2 triliun, serta PT Kawasan Industri Wijayakusuma (KIW) Rp980 miliar, serta melalui pinjaman ke daerah melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) Rp10 triliun. Pencairan alokasi pembiayaan investasi dilakukan berdasarkan analisis kinerja dan urgensi.

Adapun untuk bulan Oktober 2021, dilansir dari Antara, realisasi pembiayaan investasi tercatat Rp21,5 triliun yang diberikan kepada PT BPUI Rp20 triliun dan PPDPP Rp1,5 triliun.

Dalam kesempatan itu, Bendahara Negara ini menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2021 berpotensi tumbuh di atas 5 persen setelah pada kuartal III mengalami sedikit penurunan akibat merebaknya COVID-19 varian Delta. “Kita memperkirakan keseluruhan tahun 2021 pertumbuhannya ada di 3,5 persen hingga 4 persen. Kita berharap pertumbuhan di kuartal IV di atas 5 persen,” katanya. (Ak/Ant)