Dokter Bedah Saraf Siloam Hospitals Raih Dua Penghargaan MURI
Foto : Dokter Siloam Hospitals Dr. dr. Made Agus Mahendra Inggas, Sp. BS, FINPS/ ist

Jakarta, HanTer - Museum Rekor Indonesia (MURI) memberikan penghargaan kepada dokter Siloam Hospitals Dr. dr. Made Agus Mahendra Inggas, Sp. BS, FINPS sebagai Dokter Bedah Saraf pertama di Indonesia yang berhasil melakukan operasi Deep Brain Stimulation pada penyakit Tourrette Sindrome.

Selain itu, ia juga menjadi dokter bedah saraf pertama yang berhasil melakukan operasi Stereotactic Brain Lesioning Thalamotomy pada penyakit Epilepsi.

“Dalam menangangi kedua penyakit ini, telah dilakukan berbagai metode pengobatan standar lainnya, namun tidak ada yang menunjukan hasil signifikan sehingga akhirnya diputuskan untuk melakukan tindakan Operasi Stereotactic Brain Lesioning Thalamotomy pada penyakit Epilepsi dan Operasi Deep Brain Stimulation penyakit Tourrette Sindrome yang pertama kali di Indonesia,” kata dokter Made pada uasi menerima penghargaan MURI secara virtual bertema Sharing Experience in High Grade Glioma di di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, Rabu (9/12/2020).

Dikatakannya, operasi Stereotactic Brain Lesioning Thalamotomy pada penyakit Epilepsi dilakukan di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, pada November 2017. Sebelumnya sudah diusahakan dengan jenis pengobatan yang lain seperti obat-obatan, Operasi Vagus Nerves Stimulator, dan pemasangan implant.

Namun semuanya tidak berhasil, maka dari itu diputuskan untuk dilakukan tindakan yang lebih canggih lagi dengan Thalamotomy untuk operasi pada Epilepsi ini. Hasilnya jauh lebih baik dibanding dua pengobatan sebelumnya. Sejauh ini pasiennya sudah stabil, sudah tidak pernah kejang jatuh lagi, dan masih tetap dikontrol dengan obat-obatan. 

“Tantangan terbesar yang dihadapi dalam menangani kasus penyakit Epilepsi ini adalah bagaimana membuat pasiennya menjadi kooperatif, karena pasiennya masih muda, kejang yang berulang-ulang dan resisten, sehingga kondisinya kurang stabil dan mengakibatkan sulitnya berkomunikasi apalagi jika Epilepsinya sedang kambuh. Namun seiring berjalannya waktu akhirnya pasiennya sudah dapat menyesuaikan diri. Sedangkan untuk kasus Tourrette Sindrome pasien sangat kooperatif, sehingga memudahkan saya dan tim yang lain dalam melakukan tindakan, tapi kesulitannya justru pada saat tindakan untuk menemukan titik Tourrette Sindrome yang akan distimulasi, karena ada pemasangan chip khusus dibagian dalam otak. Apalagi di Indonesia tindakan ini belum pernah dilakukan, sehingga kami harus sangat berhati-hati,” jelasnya. 

Ia juga berharap kedua operasi yang telah berhasil dilakukan ini menjadi tonggak untuk dunia kedokteran khususnya bedah saraf, dimana ini menjadi batu loncatan karena saat ini sudah ada alternatif pengobatan untuk pasien-pasien dengan kasus Epilepsi yang sudah kronis.

Hal ini juga berlaku sama untuk pasien dengan Tourrette Sindrome dimana saat ini mungkin banyak masyarakat yang belum tahu alternatif pengobatan untuk penyakit ini, dengan hasil yang nyata.