Kasus Obesitas Berpotensi Meningkat di Masa Pandemi
Foto : Ilustrasi. (Ist)

Jakarta, HanTer - Direktur Gizi Masyarakat Ditjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Dr. Dhian Dipo menuturkan adanya kecenderungan peningkatan kelebihan berat badan dan obesitas di masa pandemi COVID-19 ini.

Hal itu karena aktivitas fisik cenderung menurun akibat bekerja dari rumah (work from home) serta meningkatnya konsumsi makanan siap saji. "Peningkatan konsumsi makanan siap saji artinya akan terjadi peningkatan asupan gula, garam dan lemak," kata Dr. Dhian, Kamis (4/3/2021).

Dijelaskan, makanan siap saji dan makanan olahan mengandung asupan garam, gula dan lemak yang lebih tinggi sehingga penimbunan gula, garam dan lemak dapat meningkatkan risiko kejadian kardiovaskuler atau risiko kematian. "Persentase konsumsi gula, garam dan lemak semakin naik karena banyaknya makanan siap saji dan makanan olahan yang dimakan," katanya.

Sejumlah faktor yang mempengaruhi obesitas yakni faktor lingkungan yang tidak mendukung untuk beraktivitas, pola makan tidak seimbang, kurangnya aktivitas fisik dan faktor budaya. "Faktor budaya misalnya penampakan gemuk dianggap sebagai kemakmuran. Balita gemuk dianggap lucu. Itu mempengaruhi obesitas ini jadi biasa," kata Dhian.

Pihaknya menggambarkan bahwa saat ini jumlah orang yang mengalami obesitas di perkotaan lebih tinggi daripada di pedesaan. "25 persen usia 18 tahun ke atas di perkotaan mengalami obesitas. Sedangkan di pedesaan, usia 18 tahun ke atas yang obesitas ada 17,8 persen. Kebanyakan (obesitas) di kota, karena di desa masih ada aktivitas fisik," katanya.

Hal ini disebabkan 95,5 persen masyarakat kurang mengkonsumsi buah dan sayuran. Selain itu satu dari tiga penduduk di Indonesia atau 33,5 persen penduduk tercatat kurang melakukan aktivitas fisik.

Selanjutnya, sambung dia, obesitas dan kelebihan berat badan bisa meningkatkan risiko terinfeksi COVID-19 di masa pandemi. Pasalnya obesitas akan menyebabkan kemampuan sistem peredaran darah dan pernapasan membagikan oksigen (kardiorespirasi) menurun dan terjadinya hiperreaktivitas imunitas sehingga meningkatkan risiko terinfeksi COVID-19.