Abu Hurairah Bapak Kucing

-
Abu Hurairah Bapak Kucing

NAMA Abu Hurairah dalam kajian Islam sering disebut-sebut sebagai seorang penghapal Hadits Rasulullah. Abu Hurairah termasuk salah seorang yang dikaruniai Allah dengan bakat yang luar biasa memiliki kemampuan dan daya ingat menghapal apa yang didengar sekalipun usianya terus bertambah. Sepanjang hidupnya lebih banyak menyertai dakwah Rasulullah sehingga termasuk salah seorang yang banyak menghafal hadits Rasulullah dan meriwayatkannya.

Abu Hurairah termasuk ahli ibadah, biasa berpuasa sunnah, pada malam hari mengisinya dengan membaca Al Qur’an dan sholat tahajud. Hidup sederhana bahkan juga sering mengikatkan batu diperutnya untuk menahan lapar seperti yang sering dilakukan Rasulullah.

Dalam riwayat disebutkan sebelum masuk Islam semasa Jahiliyah bernama Abdu Syamsi ibn Shakhr Ad-Dausi usianya lebih muda 30 tahun dari usia Rasulullah. Ketika memeluk Islam, ia diberi nama oleh Rasulullah dengan nama Abdurrahman. Namun dia lebih dikenal dengan nama Abu Hurairah (dalam bahasa Arab artinya Bapak Kucing).

Dirumahnya beliau mempunyai seekor kucing yang disayanginya, setiap hari diberinya makan, menggendong dan rajin membersihkannya memandikannya, memberikan tempat yang nyaman buat tidur kucingnya. Hewan  piaraan Abu Hurairah ini sepertinya juga tahu kalau tuannya menyayanginya sehingga selalu menyertai Abu Hurairah sebagai bayang-bayang yang selalu mengikuti kemana saja Abu Hurairah melangkah. 

Itulah sebabnya maka orang memberikan gelar pada Abdurrahman dengan nama Abu Hurairah ‘‘Bapak Kucing”. Kesukaan Abu Hurairah pada kucing sepertinya terinspirasi dari Rasulullaah yang juga sangat mencintai hewan lucu tersebut. Kucing Rasulullah bernama Muezza, yang sangat penurut dan menyayangi Rasulullah.

Pada setiap hadits dari Rasulullah  yang sering  kita dengar atau baca, hampir sebagian besar diawali dengan kata “Dari Abu Hurairah ra.”, yang demikian   menunjukkan bahwa Abu Hurairah adalah orang yang dekat dengan Rasulullah, untuk mendengarkan, menghafal, dan mengikuti tuntunan Rasulullah.  
Dikisahkan ketika Rasulullaah SAW telah wafat kecintaan Abu Hurairah pada Rasulullah tak pernah surut, dia tak pernah berhenti meriwayatkan hadits Rasulullah. Apa yang beliau sabdakan, perintahkan, tuntunkan, semua diriwayatkannya dengan sangat jelas.

Banyak orang yang berusaha memalsukan hadits Rasulullah dengan menggunakan nama Abu Hurairah sebagai periwayat. Namun semuanya dapat diatasi berkat kecintaan Abu Hurairah terhadap Rasulullah dengan banyaknya hafalan Abu Hurairah yang luar biasa dari hadits Rasulullah. 

Saking cintanya Abu Hurairah menyampaikan hapalan hadits Rasulullah, suatu  ketika Umar bin Khattab saat menjadi khalifah mendatangi Abu Hurairah mengingatkan agar tak lupa selain meriwayatkan hadist Rasulullah juga  tidak mengurangi intensitasnya berinteraksi dengan Al Qur’an. Abu Hurairah pun mematuhi seruan khalifah Umar bin Khattab. 

Wallohu a’lambishshawab.

(H Nuchasin M Soleh) 

**Telah tayang di rubrik Renungan pada media cetak Harian Terbit edisi Senin, 29 Maret 2021.