Orang Kuat

-
Orang Kuat

BOLEH jadi kita pernah dihina atau dicaci maki orang lain. Adalah manusiawi ketika orang dihina dan dicaci-maki akan marah karena marah itu fitrah dari Allah. Rasulullah pun bisa marah namun beliau mampu menempatkan amarahnya antara kepentingan pribadi dan agama. Orang yang suka menghina menganggap dirinya lebih baik dan suci dari yang dihina.  “...maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An Najm: 32).

Rasulullah mengajarkan agar tenang tidak panik ketika mendapatkan cacian hinaan dari orang lain. Lebih baik diam karena boleh jadi cacian itu sebagai masukan agar kita mengevaluasi diri untuk memperbaikinya.

Memang tidak semudah yang diucapkan tapi berat untuk dilaksanakan. Namun diam ketika dicaci maki justru memperlihatkan kemuliaan seseorang dan memberikan pelajaran bagaimana yang sebenarnya orang yang dihina dan orang yang menghina. 

Rasulullah bersabda: “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat. Orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya di saat marah.” (HR. Al Bukhari).

Imam Al Ghazali mengatakan seringkali manfaat yang kita dapatkan dari celaan seorang musuh lebih banyak manfaatnya yang kita dapatkan dari nasehat orang lain. Tidaklah aneh jika ulama-ulama shaleh tidak sakit hati manakala dicaci, dihina atau dicela, sebaliknya memaafkan bahkan mengucapkan rasa terimakasih atas hinaan itu. 

Salah satu penelitian ilmiah menemukan bahwa orang-orang yang bisa mengenyahkan kemarahannya dan memaafkan kesalahan orang lain cenderung merasa dada lapang dan bahagia. Sedangkan orang yang tidak suka memaafkan dan dendam akan mengalami penurunan fungsi kekebalan tubuh, tekanan darahnya lebih tinggi, ketegangan pada otot dan detak jantungnya.

Bisa menahan marah dan suka memafkan merupakan bagian dari ciri orang-orang mukmin. Dari Abu Hurairah bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah: “Berilah wasiat kepadaku”. Sabda Rasulullah: "Janganlah engkau marah". Jawaban yang sama itu diulangi oleh Rasulullah ketika laki-laki itu mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali.  

Wallohu a’lambishshawab.

(Nuchasin M Soleh)