Kesetiaan Abu Dzar

yp
Kesetiaan Abu Dzar

ABU Dzar salah satu diantara sahabat Rasulullah yang tegas dalam misi dakwahnya mendampingi Rasulullah meski terhadap penguasa dan hartawan. Abu Dzar tidak saja berjuang dengan lisannya melainkan juga dengan pedangnya.

Abu Dzar mendatangi para penguasa dan hartawan khususnya yang tidak lagi meneladani Rasulullah dalam mengemban amanat  jabatan dan harta. Beliau menyadari tidak semua orang tulus dan murni berjuang untuk menegakkan kalimat dan agama Allah. Ada sebagian orang yang memanfaatkan perjuangannya menegakkan kebenaran, untuk memenuhi ambisi dan keinginan nafsunya. 

Beliau seorang yang tidak suka dengan orang-orang yang berkhiaat terhadap janjinya. Abu Dzar sangat setia pada Rasulullah sering menyertai Rasulullah dalam peperangan.

Dikisahkan dari “Erva” pada peristiwa perang Tabuk yang terkenal dengan nama Jaisyul Usrah (Pasukan di masa sulit), ketika pasukan yang dipimpin Rasulullah menuju medan perang ada beberapa orang tertinggal dari rombongan termasuk Abu Dzar.

Keledai yang ditunggangi Abu Dzar lelah tak kuasa berjalan sehingga Abu Dzar tertinggal. Bahkan karena lelahnya akhirnya keledai Abu Dzar mati ditengah jalan. Ada yang melaporkan kepada Rasulullah tentang adanya beberapa anggota pasukan yang tertinggal termasuk Abu Dzar. Mendengar laporan itu Rasulullah bersabda:” Biarkanlah! Andaikan ia berguna, tentu akan disusulkan oleh Allah kepada kalian. Dan jika tidak, Allah telah membebaskan kalian dari dirinya.”

Malam hari rombongan pasukan Rasulullah istirahat. Pagi harinya seorang sahabat melaporkan ada satu sosok terlihat berjalan sendiri di kejauhan pandang. Rasulullah bersabda:“Mudah-mudahan orang itu Abu Dzar…!!”

Ternyata benar yang datang itu Abu Dzar, dipunggungnya memanggul barang dan perbekalan untuk medan perang. 

Abu Dzar berjalan jauh berusaha menyusul rombongan Rasulullah, meski terlihat kelelahan namun wajahnya bersinar saat bisa bertemu kembali dengan Rasulullah bersama rombongannya. Rasulullah tersenyum dengan penuh kasih melihat wajah Abu Dzar, seraya bersabda:”Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya pada Abu Dzar, ia berjalan sendirian, ia meninggal sendirian, dan ia akan dibangkitkan sendirian…”

Ucapan Rasulullah itu merupakan suatu gambaran tentang apa yang telah dan akan dijalani oleh Abu Dzar, bahkan pada hari kebangkitan nanti.
Dari sejak pertama Abu Dzar memeluk Islam telah terlihat keberaniannya  mengekspresikan keimanannya. Suatu ketika Rasulullah berkata pada Abu Dzar: “Wahai Abu Dzar, bagaimana pendapatmu jika menjumpai para pembesar yang mengambil upeti untuk keperluan pribadinya.”

Dengan tegas Abu Dzar menjawab, “Demi Allah yang telah mengutus engkau dengan kebenaran, aku akan luruskan mereka dengan pedangku!” Beliau tersenyum, kemudian bersabda, “Maukah aku beri jalan yang lebih baik dari itu…” Abu Dzar mengangguk, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Bersabarlah engkau, sampai engkau menemui aku…!!”.

Wallohu a’lambishshawab.

(H Nuchasin M Soleh) 

**Telah tayang di rubrik Renungan pada media cetak Harian Terbit edisi Senin (5/4/2021)