Islam Aboge

yp
Islam Aboge
Ilustrasi/foto: pixabay

BANYUMAS - Islam sangat menghargai perbedaan. Termasuk dalam keputusan hari Idul Fitri 1 Syawal 1442 H. 

Kementerian Agama menetapkan Idul Fitri jatuh pada Kamus, 13 Mei 2021. Namun Tarekat Naqsabandiyah melaksanakan Salat Idul Fitri  satu hari lebih cepat dari penetapan pemerintah. 

Berbeda dari itu semua, di Banyumas ada muslim yang melaksanakannya hari Jumat 14 Mei 2021 ini. Mereka sering disebut Penganut Islam Aboge.

Antara melaporkan hal itu terjadi di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Banyumas. Sejak pagi warganya mendatangi Masjid Jami Baitussalam untuk melaksanakan Salat Iduf Fitri.

Melihat namanya, tak sedikit mengira paham yang dianut  tersebut dari negara lain. Padahal, paham asli Jawa, Indonesia. 

Para penganut Islam Aboge menggunakan kalender Alif Rebo Wage yang kemudian dibuat akronimnya menjadi Aboge. 

Salah satu yang membedakannya dari penganut Islam lainnya adalah kuatnya unsur budaya Jawa yang disatukan dengan ajaran Islam. 

Penelitian menunjukkan Islam Aboge tidak bisa disebut sebagai sebuah aliran.  Memang seperti halnya penganut Islam umumnya, masyarakat pemeluk Islam Aboge juga menjalankan syariat Islam seperti salat lima waktu dan puasa pada Ramadan. Namun hal yang membedakan adalah ritual yang seringkali disertai pelbagai praktik ritus yang bersumber dari tradisi lokal.

Sementara Alif Rebo Wage bisa disebut sebagai perhitungan kalender Jawa menggunakan sistem satu windu (delapan tahun) untuk menyelesaikan satu periode waktu. Menurut Aboge, satu windu terdiri dari tahun Alip, He, Jim Awal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jim Akhir.

Meski begitu periode satu tahun yang dianut Islam Aboge tetap terdiri dari 12 bulan dan satu bulan terdiri atas 29-30 hari. 

Sebagaimana dikenal masyarakat Jawa kuno, hari-hari itu dikenal dengan hari pasaran yang terdiri dari Pon, Wage, Kliwon, Manis (Legi), dan Pahing. Pada perhitungan hari pasaraqn itu, hari pertama pada tahun Alip jatuh pada hari Rebo Wage.

Wilayah yang masyarakat yang masih menganut Islam Aboge itu tercatat di Desa Lamuk Legok, Jatilawang, Ajibarang, Rawalo, Pekuncen, Karanglewes, dan Wangon. 

Penganut Islam Aboge meyakini sistem perhitungan kalender itu telah dipergunakan para wali sejak abad ke-14.

Bukan hanya sistem penanggalan, cara berdoa penganut Islam Aboge juga banyak yang menggunakan Bahasa Jawa, namun ritual salat tetap menggunakan Bahasa Arab. (berbagai sumber/yp)