Melestarikan Aksara Jawa Dalam Sarung Batik
Foto : Seorang seniman yang diajak kolaborasi ialah Sugito Ha Es, seorang dalang dari daerah Magetan. Sugito menciptakan inovasi motif batik dari bentuk aksara Jawa.

Jakarta, HanTer - Beberapa waktu belakangan ini banyak bermunculan produsen-produsen sarung batik kontemporer di media sosial dan market place. Di antaranya bernama Sarung Kanjeng. Brand sarung batik yang ingin mengangkat tradisi aksara Jawa menjadi sebuah produk komoditas yang kreatif dan inovatif.

Sarung Kanjeng berbasis di Pekalongan, salah satu Kota Batik terbesar di Nusantara. Dalam upaya mentransformasikan pengetahuan tradisi, terutama yang berkaitan dengan kebudayaan Jawa, Sarung Kanjeng menggandeng seniman-seniman lokal untuk berkolaborasi.

Seorang seniman yang diajak kolaborasi ialah Sugito Ha Es, seorang dalang dari daerah Magetan. Sugito menciptakan inovasi motif batik dari bentuk aksara Jawa. Tujuannya agar dapat memperkenalkan warisan budaya tersebut kepada para milenial, target utama dari pasar Sarung Kanjeng.

“Kekayaan budaya Jawa, khususnya aksara Jawa, penting dikenal oleh generasi muda. Saya mencoba mengolahnya menjadi sebuah desain untuk sarung batik,” papar Sugito saat ditemui oleh tim media (Jumat, 28 Mei 21).

Salah satu desainnya berjudul, “Sabar Narimo”. Dirinya terinspirasi dari sebuah bait tembang macapat Asmaradana yang sangat populer di dunia Kesusastraan Jawa, meskipun penulisnya hingga kini hanya diketahui anonim.

“aja turu sore kaki
ana dewa nganglang jagad
nyangking bokor kencanane
isine donga tetulak
sandhang kalawan pangan
yaiku bageyanipun 
wong melek sabar narima.”

Sugito mencoba menafsirkan bait tersebut melalui motif yang ia buat. Intinya, mengingatkan manusia bahwa mereka yang istiqamah bersabar dalam menghadapi segala ujian, serta selalu bersyukur menerima apapun sebagai anugerah dan karunia merupakan manusia yang akan memperoleh ketenangan serta kebahagiaan hidup.

Motif-motif Sarung Kanjeng yang dibuat oleh Sugito tidak hanya secara visual berangkat dari aksara Jawa, namun secara nilai juga mengambil kandungan filosofis dari teks Sastra Jawa Klasik.

“Maksud saya agar ketika seorang penikmat sarung batik membeli Sarung Kanjeng hasil desain saya, mereka tidak sekadar memilih dari keunikan motifnya, tetapi juga dapat mengambil pelajaran tertentu dari makna di baliknya,” ungkap Sugito di akhir wawancara.