Tantangan dan Terobosan Pendidikan di Era Digitalisasi
Foto : Dr. Marzuki Peneliti PPTIK ITB dalam webinar Digitalisasi Sekolah : Tantangan dan Terobosan, Selasa, 24 Agustus 2021.

Jakarta, HanTer - Ada dua landasan pijakan berpikir dalam pembangunan pendidikan. Yang pertama visi pendidikan Indonesia, yaitu mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian melalui terciptanya profil pelajar Pancasila.

Yang kedua, ditinjau dari berbagai macam tantangan pendidikan. Antara lain guru sebagai sumber pengetahuan satu-satunya. Namun arahan di masa depan, guru menjadi fasilitator berbagai sumber pengetahuan. Selain itu, kondisi pembelajaran saat ini fokus kepada kegiatan tatap muka. Sementara di masa depan, pembelajaran sudah harus memanfaatkan teknologi.

Hal tersebut disampaikan Arwan Syarief, S.T, M.A., Analis Kebijakan Ahli Muda Direktorat Sekolah Dasar saat membuka webinar Digitalisasi Sekolah : Tantangan dan Terobosan, Selasa, 24 Agustus 2021. Webinar tersebut dapat ditonton ulang di channel Youtube Direktorat Sekolah Dasar melalui link berikut ini: https://youtu.be/ae7m3X0mUxM.

Kemudian untuk mewujudkan visi dan menjawab tantangan dunia pendidikan, lanjut Arwan, maka Kemendikbudristek melalui Direktorat Sekolah Dasar memprioritaskan beberapa program pembangunan sekolah dasar. Di antaranya percepatan digitalisasi sekolah.

“Melalui digitalisasi sekolah, diharapkan dapat mendorong terjadinya percepatan pencapaian profil pelajar Pancasila,” kata Arwan.

Ia mengatakan, digitalisasi akan mempermudah proses belajar mengajar siswa karena para siswa dapat mengakses bahan ajar ataupun bahan ujian dalam satu jaringan. Oleh karena itu, Kemendikbud Ristek akan mempercepat pemutakhiran perangkat TIK di sekolah.

“Hal ini bertujuan untuk mempermudah sekolah melaksanakan program digitalisasi. Ke depan akan semakin mendorong inisiatif teknologi sekolah mulai dari platform bagi kepala sekolah hingga guru,” ujarnya.

Sementara itu, Dr. Marzuki Peneliti PPTIK ITB mengatakan, revolusi industri teknologi informasi bukan untuk dihadapi, melainkan untuk diadaptasi. Termasuk juga dengan dunia pendidikan harus mampu beradaptasi dengan industri 4.0.

“Dunia pendidikan harus bisa menempatkan pada posisi industri 4.0 seperti saat ini. Hampir seluruh pendidikan di dunia menggunakan mekanisme distance learning yang memanfaatkan teknologi informasi,” ujar Marzuki.

Adanya wabah pandemi memiliki sisi positif meskipun pembelajaran harus dilakukan di rumah baik luring maupun daring. Dengan adanya kondisi seperti ini, pendidikan pun mulai beradaptasi dengan teknologi. Salah satunya melakukan pembelajaran melalui berbagai macam platform. Dimulai dari aplikasi whatsapp hingga zoom.

Namun sangat disayangkan proses pembelajaran daring karena situasi dan kondisi yang belum bisa melaksanakan sekolah tatap muka secara langsung. Ini dinilai belum memberikan pemahaman pada guru bagaimana menciptakan pembelajaran daring yang menyenangkan. Itu terjadi lantaran banyak peserta didik yang tidak dilibatkan secara penuh selama pembelajaran daring.

“Pastikan semua terlibat di proses belajar mengajar. Guru jangan pasif ketika mengajar online. Masih banyak peserta didik yang buka Zoom hanya diam menunggu gurunya memberikan tugas, kemudian mengumpulkan. Ini rentan memunculkan rasa bosan terhadap peserta didik,” kata Marzuki.

Melaksanakan pendidikan di kelas online dinilai bisa memberikan beban lebih berat kepada murid dibandingkan dengan belajar tatap muka. Yang tadinya bisa mengeksplor, bertanya secara langsung, tapi di kelas online harus pakai chat dan ini akhirnya menjadi pemicu penurunan kualitas pembelajaran.

“Oleh karena itu, guru harus bisa memastikan anak didiknya menjadi aktif. Bukan hanya aktif mengisi absen dan tugas saja, tapi bisa mengakses sumber, ikut berpartisipasi selama proses pembelajaran. Kepercayaan dan komunikasi dengan orang tua juga harus dibangun untuk mendampingi peserta didik menggunakan teknologi agar bisa beradaptasi dengan era saat ini,” imbuhnya.

Di sisi lain, Asmaul Husna, M.Si., guru SDN Baru 01 Pagi, Jakarta Timur, turut menyampaikan praktik baik yang dilakukan di sekolahnya. Ia menyampaikan, pihaknya sudah beradaptasi dengan perkembangan teknologi dalam proses belajar mengajar serta urusan administrasi sekolah lainnya.

Selama belajar dari rumah saat pandemi, banyak sekali aplikasi pembelajaran yang dapat digunakan. Untuk SDN 01 Pagi Jakarta Timur, pilihannya adalah Smartschool.

Menurut Asmaul usna, Smartschool merupakan platform belajar yang ideal. Itu lantaran pembelajaran dan penilaian bisa terintegrasi. Data storage dan server unlimited. Bandwith internet juga sangat kecil karena diakses via website.

“Selain itu bisa diakses di mana saja dan kapan saja. Tidak terbatas pada satu media. Media onlinenya juga menggunakan kurikulum terkini. Orientasinya pada proses belajar yang menyenangkan. Platformnya bisa diakses baik oleh siswa, guru, sekolah serta orang tua,” paparnya.

Selain itu, dalam Smartschool ini kepala sekolah bisa mengontrol seluruh konten serta kegiatan guru-gurunya dalam sebuah dashboard. Karena dalam platform Smartschool ini di dalamnya ada dashboard untuk akses para guru dan juga siswa. Lalu kemudian dalam dashboard admin ada banyak pilihan seperti keuangan, kurikulum, kesiswaan, humas, publikasi, ujian, dapodik.

“Di dalam platform ini juga ada konten pembelajaran. Ada ujiannya, jadi pengawasan manajemen sekolah ini dalam satu pintu dashboard. Bapak ibu guru juga bisa membuat website sekolah sendiri di sini. Untuk dashboard guru, bapak ibu guru bisa melakukan absensi, memberikan tugas, membuat diskusi, memberikan materi supervisi, pelaporan hingga evaluasi,” ujarnya.

Dengan kreativitasnya masing-masing, semua guru bisa membuat platform serupa sesuai kebutuhan.