Jakarta, HanTer - Dokter dan Ahli Bedah Onkologi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais Bob Andinata mengatakan jumlah insiden kanker payudara di Indonesia mencapai 16,6 persen atau sebanyak 65.858 kasus per tahun.

Jumlah tersebut, kata dia, mengalahkan insiden pada kanker leher rahim (serviks) yang berjumlah sebesar 9,2 persen atau 36.633 kasus per tahun. “Angkanya tidak tanggung-tanggung, jauh mengungguli peringkat kedua sebesar 9,2 persen,” kata Bob, Kamis (14/10).

Melihat jumlah penderita kanker payudara yang begitu besar, Bob menyarankan agar semua perempuan yang sehat secara rutin dapat melakukan skrining dan deteksi dini untuk bisa melakukan pencegahan lebih cepat.

Ia menjelaskan, pemeriksaan itu lebih baik segera dilakukan oleh perempuan yang telah mengalami menstruasi baik melalui sadaris, sadanis maupun mammogram. Selain melakukan pemeriksaan, Bob juga meminta agar semua perempuan selalu memperhatikan kondisi payudaranya untuk memastikan apakah terdapat sebuah benjolan yang tidak menimbulkan rasa nyeri pada tubuh.

Ia mengatakan, hal itu merupakan tanda bahaya dan apabila ditemukan benjolan tersebut tidak hilang dalam waktu tiga bulan, maka perlu segera dilakukan pemeriksaan untuk mendapatkan penanganan dan diagnosis lebih lanjut.

“Kalau benjolan di payudara ini tidak hilang dalam tiga bulan, itu artinya seorang wanita harus melakukan skrining melalui sadari kemudian dia ke dokter melakukan pemeriksaan dan dokter akan lakukan deteksi dini,” ujar dia. (Ant)