Dua Buku Karya Prof Dr Masykuri Abdillah untuk Tunjukkan Islam Rahmatan Lil Al Amin
Foto :

Jakarta, HanTer - Guru Besar Bidang Hukum dan Politik Islam (Fikih Siyasah) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Prof Dr Masykuri Abdillah mengatakan, Islam adalah agama yang membawa misi rahmat bagi semesta alam (rahmah li al-'alamin), yang mengajarkan kedamaian, toleransi, dan kerukunan dalam kehuidupan masyarakat dan negara. 

Munculnya tindak kekerasan yang dilakukan oleh kelompok radikal, ekstrem, dan kelompok jihadi sebenernya hanya didasarkan pada teks-teks Al-Quran dan Hadits yang dipahami secara literal. Hal demikian dikatakan Prof Dr Masykuri Abdillah saat meluncurkan dua bukunya yang berjudul "Islam Agama Kedamaian" dan "Islam dan Etika Kehidupan Berbangsa".

Peluncuran buku berlangsung di sebuah hotel di Jakarta, Kamis (25/11/2021) dengan dua konsep virtual dan offline. Sejumlah pejabat tinggi hadir dalam peluncuran buku yang berlangsung dari pukul 9.30 - 12.00 WIB, di antaranya, Duta Besar RI untuk Arab Saudi Dr. Abdul Aziz Ahmad, Direktur Eksekutif Indonesia Halal Watch (IHW), Dr Ikhsan Abdullah.

Sementara yang hadir secara virtual yakni Wapres KH Ma'ruf Amin, Menko Polhukam Prof. Dr. Moh. Mahfudh MD, Ketua Umum PBNU Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siroj, dan Guru Besar STIF Driyarkara Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, SJ serta Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA.

"Buku ini (dua buku) merupakan kumpulan dari tulisannya yang telah dimuat di harian Kompas dan juga seminar atau diskusi," jelas Prof Dr Masykuri.

Prof Dr Masykuri memaparkan, tulisannya yang telah dimuat di media nasional atau acara seminar merupakan hasil dari permintaan dari berbagai pihak. Setidaknya ada sekitar 45 judul tulisannya telah dipublikasikan baik melalui media nasional maupun dalam kegiatan seminar. Ia pun berharap beragam karya tulisnya yang dirangkum dalam dua bukunya bisa diterima berbagai kalangan dan akademisi.

"Karena permintaan maka tulisannya saya itu guna merespon berbagai permasalahan. Argumentasi dalam dua buku tersebut harus diterima oleh kalangan umat Islam dan juga akademik. Jadi dua buku ini hasil opini saya," tandasnya.

Lebih lanjut Prof Dr Masykuri mengatakan, Islam adalah agama yang tidak hanya mengajarkan sistem keyakinan (akidah) dan sistem hukum (syariah), tetapi juga standar etika-moral (akhiak) yang harus dipraktikkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dalam konteks kehidupan bernegara pada saat ini, sistem demokrasi dinilai sebagai sistem yang paling menghargai kemanusiaan dan sekaligus mencakup dimensi etis. 

Namun, sambung Prof Dr Masykuri, sistem ini juga mengandung kelemahan-kelemahan tertentu, dan hal ini bisa diminimalisasi jika praktik demokrasi disertai dengan etika politik, yang dalam perspektif Islam tidak hanya berdimensi lahiriah, tetapi juga dimensi batiniah (esoterik) dan spiritual. Para ulama dan tokoh Islam Indonesia telah mengungkapkan persoalan- persoalan demokrasi beserta nilai-nilai etis yang terkandung di dalamnya, seperti HAM, pluralisme, dan toleransi.

"Untuk memperkuat demokrasi di negara ini, diperlukan pendidikan politik yang mencakup etika kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan etika politik ini, di satu sisi para elite politik dan pemerintahan memiliki tanggung jawab dalam pengambilan kebijakan publik dan pelaksanaannya untuk kemaslahatan bangsa; dan di sisi lain, warga negara dapat mengekspresikan hak-hak politik dengan bertanggung jawab, termasuk menjaga toleransi dan kedamaian dalam kehidupan masyarakat," paparnya.

Prof Dr Masykuri menegaskan, dua buku karyanya sangat pantas dimiliki dan dibaca oleh siapa saja, terutama para santri, mahasiswa, ulama, akademisi, aktivis, politisi, pejabat, dan tokoh masyarakat. Sebab, buku ini banyak memberikan banyak informasi tentang hubungan antara agama dan negara serta konsep Islam tentang etika berbangsa dan bernegara, termasuk dalam pandangan para ulama dan tokoh Islam negeri ini.

Sementara itu Mahfud MD mengatakan, Islam adalah agama yang membawa misi rahmat bagi semesta alam (rahmah li al-’alamin), yang mengajarkan kedamaian, toleransi, dan kerukunan dalam kehidupan masyarakat dan negara. Munculnya tindak kekerasan yang “lakukan oleh kelompok radikal, ekstrem, dan kelompok jihadi sebenarnya hanya didasarkan pada teks-teks Al-Quran dan Hadist yang dipahami secara literal. 

Mahfud memaparkan, konteks turunnya teks-teks itu (asbab al-nuzul) menunjukkan bahwa jihad perang hanya dilakukan secara defensif. Untuk merespons pemikiran dan aksi-aksi kelompok radikal dan ekstrem, para ulama dan intelektual Muslim di dunia kemudian mempromosikan pemahaman Islam secara moderat (wasathiyyah). 

"Dengan pemahaman Islam wasathiyyah ini, umat Islam di Indonesia bisa hidup secara damai dan rukun dengan tetap menjaga kemajemukan bangsa. Oleh karena itu buku ini sangat penting artinya bagi upaya penguatan nasionalisme umat Islam terhadap Indonesia yang berdasar Pancasila. Sebab meskipun Indonesia bukan negara Islam, tetapi Indonesia bisa dibangun dengar nilai-nilai luhur Islam sehingga menjadi negara yang (bersifat) Islami," tandasnya.

Prof Dr r Azyumardi Azra mengatakan kerukunan beragama yang ada di Indonesia bisa ditawarkan ke Eropa dan Timur Tengah. Karena di Eropa juga ada agama yang mengalami diskriminasi atau persekusi seperti Kristen Katolik yang kerap dipersekusi oleh Kristen Ortodoks. Timur Tengah yang terbentang dari Maroko ke Yaman juga terbagi 22 negara. Sementara Sabang hingga Merauke yang didalamnya ada Indonesia hanya ada 6 negara.