Rilis Ulang Album Instrumental Kesatu, Ria Prawiro: Sebuah Harapan dan Kepuasan Sendiri
Foto : Gihon Lohanda, Ria Prawiro dan Juan Mandagie (kika)/ ist

Jakarta, HanTer - Penulis lagu sekaligus Produser Ria Prawiro menyadari musik instrumental di Indonesia, tidak bisa jadi ladang bisnis yang cepat menangguk ‘cuan’.  

Namun, ia punya pertimbangan sendiri, ketika merilis ulang  lagu karyanya  yang pernah hits dalam bentuk album instrumetal berjudul Kesatu. Musik di album smooth jazz ini digarap Gihon Lohanda dan Juan Mandagie. 

“Kita berkarya tidak melulu harus melihat pasar. Kejujuran dalam berkreasi juga dapat menjadi rasa yang layak mendapat apresiasi dari diri sendiri,“ kata Ria, Senin (27/9/2021).

“Secara umum album ini bisa menjadi sebuah harapan. Jika berhasil disukai pendengar, ini bakal menjadi sukacita dan kepuasan tersendiri bagi kami,” tambah Ria.

Musik Alien

Album instrumental  berjudul Kesatu, berisi 7 lagu  easy listening  yang lembut. Memuat re-make lagu karya Ria Prawiro yang pernah dipublikasikan. Antara lain, Kalau (1987), Oh Cinta (2010), Kekasih Jiwa (2010), Kita (2017),  You’re the One (2000), Abdimu (2000), Lewati Badai (2010).

Gihon Lohanda yang bertindak sebagai Musik Director, sekaligus gitaris, pemain bass, vokalis juga bekerja untuk mixing dan mastering, mengaku proses pengerjaan album Kesatu terhitung  sangat cepat.

“Kami melakukan workshop dan menginap di villa Kinasih Bogor. Selama empat hari,  kami berhasil membuat  aransemen dan merekam sampai 11 lagu,” ucap Gihon yang sudah bekerja sama dengan Ria Prawiro sejak tahun 2011.

Belakangan, setelah rekaman selesai, Gihon  bisa merasakan, “Lagu yang digarap lewat workshop dan menginap dengan suasana sejuk pegunungan, hasilnya jauh berbeda, dibanding rekaman  dalam studio biasa,” ungkap dosen Conservatory Music di Universitas Pelita Harapan ini.

Juan Mandagie, pianis muda yang berkolaborasi di album ini menyetujui pendapat Gihon.  Namun menurut Juan, harus diakui juga bahwa kesulitan dan tantangan  yang dihadapi , juga  jadi jauh berbeda. 

“Apalagi, lagu yang mau diaransemen baru diberikan di tempat,  terus langsung disuruh  bikin aransemen  dalam waktu 30 menit.  Abis itu take 2 jam, preview rough mixing 15 menit. Waktu yang singkat bukan?” ujar Juan  dengan tertawa. 

Karena itu Juan merasa, saat workshop berjalan, banyak moment berkesan  yang dilalui bersama Ria Prawiro.   Salah satunya, “Mama Iya  selalu menyediakan  menu makanan yang mengalir seharian.  Sangat sulit menghabskan satu ekor ikan gurame goreng,” katanya tertawa.

Namun  di tengah itu,  karena suasana kerja kreatif yang  sangat hectic,  “Kami kadang mengandalkan bahasa alien dalam mentranslate melodi maupun ritmik,” ujar Juan.

Challenge di Instagram

Juan mengaku puas dengan hasil yang terdengar dalam album “Kesatu”.  Ia menyebut album ini sebagai Chill and Sopisticated.  

“Saya paling suka dengan lagu  berjudul  “Kekasih Jiwa”. Soalnya saya  ikutan nyanyi di situ,” ungkap Juan yang  sudah bekerja sama dengan Ria Prawiro sejak tahun 2017, salah satunya lewat Tetap Cinta yang dinyanyikan Mark Pattie.

Sementara Gihon sangat  menyukai lagu Kalau. 

“Karena nuasa nusiknya seru, ada seperti nuansa musik Tibet. Jadi seperti world music, tapi juga ada jazz instrumental, easy listening,” kata Gihon yang bersama Archipelago Orchestra banyak membuat pagelaran di dalam maupun di luar negeri

Untuk  lebih menggemakan kehadiran album  produksi  Kariza Production,  Juan dan Gihon  sepakat  membuat video challenge  dari lagu  Kita di Instagram .  Di mana mereka mengajak musisi muda ikut memainkan lagu tersebut. 

“Ternyata, banyak musisi muda berbakat yang ikut  sebagai peserta dan mengirim videonya pada kami.  Saya sangat senang lihatnya,” tutup Ria Prawiro.