Kasus Penipuan Rp1,3 Miliar; Oknum Polisi AKP Jefry Djoharam Dibui 2 Tahun
Foto :

Jakarta, HanTer - Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat memvonis Ajun Komisaris Polisi (AKP) Jefry Djoharam 2 tahun penjara karena terbukti melakukan tindak pidana penipun, yang mengakibatkan korban menderita kerugian Rp1,3 Miliar.

Dalam pertimbangannya Ketua Majelis Hakim Bambang Sucipto dalam amar putusannya menyatakan hal yang memberatkan terdakwa Jefry Djoharam telah menikmati hasil penipuan dan masih anggota Polri aktif.

Sedangkan hal yang meringankan terdakwa sopan di persidangan dan mengakui semua perbuatannya.

"Menyatakan Terdakwa Jefry Djoharam telah terbukti melakukan tindak pidana penipuan terhadap korban Naura Maringka. Hal yang memberatkan terdakwa telah menikmati hasil penipuan dan terdakwa masih aktif sebagai anggota Polri. Sedangkan hal yang meringankan terdakwa sopan di dalam persidangan dan mengakui perbuatannya," ujar Hakim Bambang Sucipto, Senin (14/6/21).

Atas vonis tersebut Naura Maringka selaku korban akan mengajukan upaya hukum Banding. Alasnnya vonis yang dijatuhkan majelis hakim tidak sebanding dengan kerugian yang telah dialami Naura Maringka.

"Kami akan mengajukan upaya hukum Banding atas putusan majelis hakim. Dengan pertimbangan kerugian yang kami alami masih jauh dari keadilan," tutur dia.

Sebelumnya Jaksa penuntut umum Yerich Mohda Sinaga dari Kejaksaan  Tinggi DKI Jakarta, menuntut pidana selama 3 tahun terhadap Ajun Komisaris Polisi (AKP) Jefry Djoharam. 

Saat melakukan aksi penipuan, dirinya tengah bertugas di Polres Jakarta Selatan. Dan disinyalir saat ini dia belum menjalankan sidang etik profesi.

Pembacaan requisitor itu berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (18/5/21) sore.

Jaksa Yerich mengungkapkan dalam surat tuntutannya, Jefry Moharam terbukti melakukan dugaan tindak pidana penipuan terhadap saksi korban Naura Maringka sebesar Rp1,3 miliar.

"Memohon kepada majelis hakim agar menghukum Terdakwa Jefry Moharam selama tiga tahun penjara," ucap Jaksa Yerich dihadapan Ketua Majelis Hakim Bambang Sucipto.

JPU Yerich Mohda Sinaga dari Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta menjerat terdakwa Pasal 378 KUHP tentang penipuan dan Pasal 372 KUH Pidana soal penggelapan dengan ancaman pidana maksimal 4 tahun penjara.

Dalam surat dakwaan disebutkan peristiwa berawal sekitar pada bulan Februari 2018 lalu. Kala itu Jefry berdalih dapat mengurus proyek tanah di Jalan Senopati, Jakarta Selatan yang akan dibeli oleh H. Isyam. Dan untuk pengurusan surat-surat lahan dirinya membutuhkan dana sebesar Rp1 miliar.

Terdakwa Jefry berjanji akan mengembalikan uang milik Naura Maringka dalam tempo satu bulan. Karena tergiur iming-iming akan dikembalikan paling lambat satu bulan, maka pada bulan Maret 2018 korban menyerahkan uang sebesar 100 ribu dolar Singapura kepada Jefri. Selain 100  ribu dolar Singapura, Jefri juga minta ditransfer ke rekeningnya dan isterinya secara bertahap sebesar Rp380.700.000.

Setelah satu tahun tidak ada kejelasan tentang pengembalian uangnya, Noura pada bulan Maret 2019 bersama suami, melakukan konfirmasi kepada ahli waris tanah di Jalan Senopati. “Dari informasi ahli waris, didapat keterangan bahwa mereka tidak kenal, tidak punya hubungan dan tidak pernah ada meminta uang atau menerima uang dari Jefri untuk biaya pengurusan surat-surat tanah,” ungkap Jaksa Yerich, Selasa (30/3/2021).

Akan tetapi katanya, uang-uang tersebut dipergunakan untuk membiayai keperluan pribadi dia dan keluarga, seperti membeli mobil, membeli tanah dan membangun rumah di kampung isterinya di Lampung.Akibat perbuatan oknum ini korban menderita kerugian lebih dari Rp.1.380.700.000.

Sementara itu seusai pembacaan surat dakwaan yang berlangsung secara virtual, Jefri sempat membela diri bahwa ia tidak menipu Noura Maringka.

Namun majelis hakim pimpinan Bambang Sucipto meminta kepada Jefry menanggapinya dalam persidangan pekan depan dengan agenda nota pembelaan dari terdakwa Jefri.