Prabowo-Sandi Lebih Menarik Simpati Kaum Emak-emak
Foto : Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno saat melakukan kampanye (ist)

Jakarta, HanTer — Strategi Tim pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dinilai cukup ampuh dalam menarik simpati kelompok emak-emak. Hal ini cukup merepotkan Tim paslon nomor urut 01, Joko Widodo-Ma'ruf Amin yang bahkan memilih menyebut ‘ibu bangsa’ ketimbang emak-emak. Karena kata emak - emak sudah melekat untuk pasangan Prabowo - Sandi
 
“Prabowo-Sandiaga sudah terlebih dahulu berusaha menarik simpati kalangan emak-emak yang secara populasi memang sangat signifikan. Yang menarik, strategi Prabowo Sandi ini justeru ketika Tim Jokowi Ma'ruf Amin masih berusaha menarik simpati pemilih muslim dan juga kaum milenial," kata Karnali Faisal kepada Harian Terbit, Selasa (19/3/2019).
 
Karnali mengemukakan hal tersebut menyusul hasil survey Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA yang menyatakan paslon 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin dirugikan jika kalangan emak-emak dan rakyat kecil alias wong cilik golput pada Pilpres 2019. Prediksi itu berdasarkan survei bahwa emak-emak dan wong cilik menyumbang margin kemenangan masing-masing 31 persen dan 36,3 persen dalam suara Jokowi-Ma'ruf di Pilpres 2019.
 
"Jika golput banyak terjadi di pemilih emak-emak, Jokowi-Ma'ruf dirugikan," ujar Peneliti LSI Denny JA, Ikrama Masloman dalam rilis survei LSI Denny JA bertema 'Siapa Dirugikan Golput: Jokowi atau Prabowo' di Kantor LSI Denny JA, Jakarta, Selasa (19/3/2019).
 
Kaum Milenial
 
Karnali memaparkan, ketika arus suara emak-emak sudah terkapitalisasi, Sandiaga Uno kemudian melompat meraih suara kaum milenial. Kemampuannya mengelaborasi semangat kaum milenial membuat Sandi relatif tidak kesulitan untuk merebut suara kelompok ini.  
 
"Waktu sebulan ini tentunya akan menjadi pertaruhan bagaimana strategi-strategi itu dilakukan. Di atas kertas, Prabowo Sandi lebih punya peluang mengkapitalisasi dua kelompok ini. Sedangkan Jokowi Ma'ruf Amin tetap mengandalkan basis pemilih tradisional," paparnya.
 
Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Bunda Mulia (UBM) Silvanus Alvin mengatakan, kalangan die-hard paslon 01 dan 02 itu datang dari generasi baby boomers. Diyakini secara otomatis mereka akan menggunakan hak pilihnya di Pilpres 2019. Sementara yang agak rentan untuk golput di Pilpres 2019 adalah kaum milenial, yang jumlahnya cukup signifikan. 
 
Survei tentang preferensi politik kaum milenial yang dilakukan oleh Jajak Pendapat App (2015) memaparkan bahwa kaum milenial begitu apatis terhadap politik di Indonesia. Sebesar 99 persen milenial Indonesia tidak tergabung dalam partai politik dan 87 persen menyatakan tidak tertarik bergabung dengan partai tertentu. Bahkan, 63 persen milenial enggan mengikuti perkembangan isu-isu maupun berita politik teranyar.
 
"Ada semacam antipati terhadap politik yang dilakukan kaum milenial," ujar Silvanus Alvin.
 
Silvanus menuturkan, ada beberapa hal yang menyebabkan kaum milenial antipati terhadap politik. Di antaranya, diksi ‘politik’ memiliki konotasi negatif seperti membosankan, kotor, dan korup. Pemaknaan tersebut adalah akibat para oknum politisi yang lalai dalam menjalankan tugas serta fungsinya. apalagi baru saja ketum PPP Romi kena OTT KPK terkait dugaan suap jual beli jabatan di Kemenag.
 
"Pendekatan ke kaum milenial ini haruslah unik. tidak bisa cara-cara lama dipakai ke mereka supaya mereka tidak golput," jelasnya.
 
Silvanus memaparkan, untuk menarik kaum milenial maka harus ada gimmick digital yang zaman now. Misalnya setelah gunakan hak pilih, upload gaya seru pasca coblos ke media sosial, lantas foto terkeren dapat hadiah. Atau KPU kerjasama dengan sejumlah tennant di F&B buat gimmick memberikan diskon kepada individu yang sudah gunakan hak pilih. 
 
"Atau TPS itu jangan kesannya sendu, tapi dihias secara meriah layaknya konser sehingga mengundang dan menarik untuk didatangi milenial. Kan namanya saja pesta demokrasi. Nah cara-cara milenial seperti ini yang harus digunakan," paparnya.
 
Survei LSI Denny JA mencatat hampir 50 persen pemilih di Pilpres 2019 adalah emak-emak atau perempuan. Di kantong pemilih ini, berdasarkan survei Februari 2019, sebanyak 61 persen pemilih emak-emak memberikan dukungan kepada Jokowi-Ma'ruf. Sementara dukungan terhadap Prabowo-Sandi sebesar 30 persen. 
 
"Artinya bahwa selisih kedua pasangan capres di segmen ini mencapai 31 persen," kata Ikrama.
 
Adapun penyebab golput di kalangan emak-emak, Ikrama menyampaikan hal itu bisa terjadi karena gagasan dan informasi seputar Pilpres 2019 tidak terdistribusi dengan baik. Penyebab lain karena masalah administrasi seperti kertas suara yang tidak terdistribusi secara merata. "Kemudian masalah apatisme politik," ujar Ikrama.
 
Terkait hal itu, Ikrama menyampaikan upaya mendorong agar emak-emak tidak apatis terhadap pilpres merupakan solusi mencegah golput di segmen tersebut. Beberapa hal yang bisa dilakukan, kata dia, melakukan kapitalisasi kampanye yang langsung menyasar emak-emak. "Sehingga mereka merasa punya kewajiban untuk datang ke TPS," ujarnya.
 
Selain emak-emak, survei LSI Denny JA juga menyebut Jokowi-Ma'ruf dirugikan jika golput banyak terjadi di kalangan wong cilik. Sebab, ia menyebut margin kemenangan paslon 01 di segmen itu mencapai 36,3 persen.