Sebelum Pandemi Covid-19, Jumlah Pengangguran Sudah Terus Bertambah

Safari
Sebelum Pandemi Covid-19, Jumlah Pengangguran Sudah Terus Bertambah
Ilustrasi aksi buruh (ist)

Jakarta, HanTer - Pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang menyebutkan jumlah pengangguran di Indonesia bertambah sebanyak 2,67 juta orang akibat pandemi COVID-19, dibantah. Pasalnya, tingginya angka pengangguran telah terjadi sebelum Covid-19 melanda dunia dan Indonesia. 

Pengamat ekonomi dari Political and Public Policy Studies (P3S) Jerry Massie mengatakan, sebelum Corona angka pengganguran mencapai 6,88 juta. Pada September 2020 angka pengganguran bertambah Rp3,7 juta. Sehingga past and present (masa lalu dan sekarang) tak ada perubahan signifikan terkait angka pengangguran.Padahal anggaran yang digelontorkan untuk penanganan Covid-19 cukup tinggi. 

"Kartu prakerja Rp5,6 triliun belum lagi dana desa Rp70 triliun pada 2020. Karyawan swasta disuntik Rp37,7 triliun atau Rp600 ribu bagi karyawan. Terakhir ada rencana ngutang ke Australia dan Jerman," jelasnya.

Jerry meniiai dengan tingginya angka pengangguran maka Sri Mulyani sebagai Menkeu tidak mampu mengatur anggaran negara. Padahal sebagai Menkeu terbaik dunia setidaknya ada solusi long term, mid term and short term (jangka panjang, menengah dan jangka pendek). Apalagi dengan support untuk UMKM Rp2,4 juta maka sebetulnya bisa memperkecil angka pengganguran. 

"Jangan juga terlalu meninabobokan dengan BLT sampai Bansos tapi ada grand strategy and grand design untuk menekan angka jumlah penganguran," jelasnya.

Salah Kelola

Ketua Umum Badan Relawan Nusantara (BRN) Edysa Girsang menilai, bertambahnya jumlah pengangguran sebanyak 2,67 juta orang akibat pandemi COVID-19, karena salah kelola negara. Ditambah juga para menteri ekonomi dan rezim Joko Widodo (Jokowi) tidak mempunyai strategi sesuai tujuan negara.

'Sri Mulyani sebagai Menkeu terbaik hanya mempunyai strategi berutang yang pastinya akan menjerat bangsa ini semakin dalam pada agenda neolib atas hutang," ujar Edysa Girsang kepada Harian Terbit, Senin (23/11/2020).

Edysa menyebut, sumber masalah ekonomi sudah terjadi jauh sebelum pandemi Covid-19. Oleh karena itu pandemi hanya menjadi akal-akalan untuk menutupi kegagalan pemerintah melindungi rakyatnya sendiri. 

Sementara itu Ketua Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI) DPC DKI Jakarta, Alson Naibaho mengakui bahwa jumlah pencari kerja (pencaker) di Indonesia memang tertinggi di Asean. Tingginya angka pengangguran telah terjadi sebelum Covid-19 melanda dunia dan Indonesia. Adapun jika ada penurunan pengangguran maka jumlahnya sangat kecil. 

"Jumlah pengangguran dari 7 jutaan menjadi sekitar 6,8 jutaan. Angka itu naik lagi secara drastis pas Covid-19. Karena adanya Covid-19 mengakibatkan banyak perusahaan tutup," jelasnya.

Alson mengakui, pemerintah saat ini telah mengantisipasi agar kasus Covid-19 tidak menaikkan jumlah pengangguran. Namun adanya Covid-19 tidak akan mampu mencegah naiknya jumlah pengangguran. Apalagi tidak ada ketegasan dari pemerintah terkait larangan agar perusahaan tidak melakukan PHK.

Diketahui, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan jumlah pengangguran di Indonesia bertambah sebanyak 2,67 juta orang akibat pandemi COVID-19 yaitu dari 7,1 juta orang menjadi 9,77 juta orang atau dari 5,23 persen ke 7,07 persen.

“Tingkat pengangguran ini, kalau kita lihat tambahan pengangguran akibat adanya COVID-19 adalah 2,67 juta orang,” kata Menkeu Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Senin (23/11/2020).