Tebar Fitnah dan Kebencian, Siapa Musuhi Anies?

Safari
Tebar Fitnah dan Kebencian, Siapa Musuhi Anies?
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan

Jakarta, HanTer - Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menjadi sasaran tembak atau terkesan ‘dimusuhi’ kelompok tertentu yang khawatir mantan Menteri Pendidikan tersebut maju sebagai calon presiden 2024-2029 mendatang. Kelompok anti Anies tersebut  kerap menebar fitnah dan kebencian. 

Demikian disampaikan Sekjen ProDem, Satyo Purwanto dan pengamat politik Rusmin Effebdy kepada Harian Terbit, Selasa (24/11/2020).

Satyo Purwanto mengatakan, Anies Baswedan yang terkesan 'dimusuhi' kelompok tertentu karena Anies bakal Capres yang paling populer di Pilpres 2024. Apalagi siapapun lawan Anies di Pilpres 2024 akan sulit menghadapinya. Saat ini kepopuleran dan elektabilitas Anies tidak tertandingi oleh figur lainnya yang akan maju di Pilpres 2024. 

"Tidak heran segala daya upaya akan dilakukan untuk menghambat Anies melaju sebagai Capres," ujar Satyo Purwanto.

Dia menilai, Anies kerap dimusuhi karena residu kekalahan dalam kontestasi Pilkada DKI Jakarta di tahun 2017 lalu. Oleh karena itu "memusuhi" Anies harus dilakukan, sebab mereka sulit melupakan kekalahan. 

Satyo menyarankan agar Anies tetap tabah menghadapi musuh-musuhnya maka Anies mesti galang kekuatan parpol sedini mungkin minimal untuk mempermudah menuntaskan program disisa masa periode kepemimpinannya sebagai Gubernur DKI Jakarta. 

Dia menyebut, berbagai upaya akan selalu menjegal Anies agar tidak maju sebagai Capres 2024. “Dalam realitas politik itu (menjegal Anies) akan tetap ada, tetapi sepanjang tidak ada pelanggaran hukum dan pelanggaran UU maka Anies hanya akan menghadapi upaya terus menerus "pembunuhan" karakter," tandasnya.

Sasaran Tembak

Pengamat politik Rusmin Effendy menilai, sosok Anies Baswedan 'yang kerap  dimusuhi' kelompok tertentu, karena sejak terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan memang  telah menjadi sasaran tembak kelompok-kelompok yang anti Anies, yang sengaja menebarkan fitnah dan kebencian.

"Mereka membully, dan menjelekkan semua prestasi Anies. Padahal, faktanya, kepemimpinan Anies mampu melampaui prestasi Jokowi maupun Ahok saat menjabat gubernur dan semuanya sudah terbukti dan terukur," ujar Rusmin Effendy, Selasa (24/11/2020).

Rusmin menuturkan, jika mau jujur maka sosok Anies menjadi magnit politik sekaligus mendapatkan tiket dalam persaingan Pilpres 2024 mendatang. Jika dibandingkan dengan figur-figur yang ada maka peluang Anies lebih terbuka mendapatkan dukungan dan simpati rakyat. Apalagi bukan rahasia umum lagi, siapa kelompok yang membully dan menginginan Anies dicopot dari kursi Gubernur DKI Jakarta. 

"Semua cara dilakukan bagaimana Anis tidak bisa maju di Pilpres 2024,” ujarnya.

Saat ini, lanjut Rusmin, belum ada figur yang mampu menandingi popularitas Anies untuk bersaing maju di Pilpres 2024. Tidak heran Anies dipasangkan dengan siapapun pasti mendapat dukungan. Artinya elektabilitas dan popularitas Anies mampu melampaui kandidat yang akan bersaing seperti Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo dan siapapun yang bakal bersaing dan maju di Pilpres 2024 nanti.

Rusmin mensinyalir ada kelompok tertentu yang sengaja bermain untuk menggulingkan Anies dari Gubernur DKI ataupun agar tidak bisa mencalonkan diri sebagai kandidat capres mendatang. 

“Kalau mau fairness bersaing saja secara sehat karena yang memilih itu kan rakyat. Biarlah rakyat menentukan siapa sosok pemimpin yang bisa memberikan harapan bukan sekesar janji-janji dan berbohong demi kekuasaan,” tandasnya. 

Anies Jeli

Sementara itu Pakar Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul M. Jamiluddin Ritonga menilai, Anies Bawesdan memang aktor politik yang jeli mengkomunikasikan dirinya dari berbagai sisi. Saat masyarakat cemas dengan dinamika demokrasi di negeri tercinta, Anies pun mempublikasikan foto dirinya sedang membaca buku berjudul How Democracies Die (Bagaimana Demokrasi Mati).

Menurut Jamiluddin, foto Anies itu sebenarnya tampak sederhana. Namun karena pejabat di Indonesia jarang mempublikasikan foto dirinya sedang membaca buku, maka foto itu mendapat apresiasi dari masyarakat luas.  Selain sederhana, foto Anies juga menekankan dirinya pejabat yang bukan birokrat. 

"Anies ingin memberi pesan, pejabat itu harus terus menerus mengisi isi kepala dengan membaca," jelas Dosen Isu dan Krisis Manajemen Universitas Esa Unggul, Jakarta ini.

Dalam konteks komunikasi politik, terang Jamiluddin, Anies tampaknya ingin mengubah citra pejabat yang selama ini kaku dan digambarkan tahu segala hal. Karena dengan membaca, maka gambaran sosok yang serba tahu akan pupus dengan sendirinya.  Namun dari semua itu, respon terbesar dari masyarakat disebabkan judul buku itu sesuai dengan  persoalan yang menjadi kehawatiran sebagian besar masyarakat. 

"Masyarakat menilai apa yang dirasakannya tentang demokrasi seolah dirasakan Anies," tutur Penulis Buku Tipologi Pesan Persuasif ini.

Jamiluddin berpendapat, di sini terjadi konvergensi antara Anies dan sebagian masyarakat dalam kegusaran dinamika demokrasi di Indonesia. "Konvergensi ini menciptakan ikatan psikologis dan sosiologis masyarakat kepada Anies," ucapnya.

Meski demikian, Jamiluddin memaklumi, jika ada saja anggota masyarakat yang merespon negatif tampilan Anies dalam foto tersebut. "Mereka ini umumnya memang sudah sejak awal memiliki sikap awal (predisposisi) yang negatif. Orang-orang seperti ini tidak akan pernah melihat tampilan Anies dari sisi positif," jelas Dekan Fikom IISIP Jakarta 1996-1999 ini.

Dengan sikap awal negatif, tambah Jamiluddin, melihat Anies sedang tersenyum saja dapat dipersepsi oleh mereka sedang meledek. Karena itu, apa pun yang dilakukan Anies akan dinilai negatif. Oleh karena itu munculnya pro dan kontra terhadap foto Anies menjadi wajar. 

"Sebab, ada yang sikap awal positif dan negatif kepada Anies," pungkas mantan Evaluator Harian Umum Suara Pembaruan ini.