Pfizer, Vaksin Pertama yang Diizinkan WHO, Bagaimana dengan Sinovac?

Anugrah
Pfizer, Vaksin Pertama yang Diizinkan WHO, Bagaimana dengan Sinovac?
Vaksin Pfizer

Vaksin Covid-19 buatan Pfizer/BioNTech menjadi yang pertama memperoleh izin penggunaan darurat dari organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pemberian izin pada 31 Desember 2020 lalu tersebut diharapkan dapat mempercepat vaksinasi di negara miskin dan berkembang. 

Dalam kajian WHO dikutip Katadata, vaksin Pfizer/BioNTech memiliki efikasi atau persentase penurunan penyakit pada kelompok yang divaksinasi sebesar 95 persen melalui dua kali pemberian vaksin. 

Dosis pertama akan mulai membentuk imunitas pada hari ke-12. Selanjutnya, dosis kedua yang diberikan pada hari ke-21 menambah pembentukan imunitas hingga terbentuk penuh pada hari ke-28.
Berdasarkan uji klinis yang telah dilakukan sebelumnya, vaksin ini tidak punya efek samping parah, kecuali reaksi saat vaksinasi.

Misalnya, lelah, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, serta demam. Meski begitu, vaksin ini perlu disimpan dalam lemari pendingin bersuhu –70oC selama maksimal enam bulan. 

Hingga 24 Desember 2020, vaksin Covid-19 buatan Pfizer/BioNTech telah digunakan dalam program vaksinasi di 19 negara. Setiap dosisnya diberikan pada masyarakat berusia di atas 16 tahun.

Perincian Vaksin Covid-19 yang Telah Dipesan Pemerintah

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan untuk pelaksanaan program vaksinasi pada masyarakat, Indonesia telah melakukan pemesanan atau firm order 329,5 juta dosis vaksin COVID-19.

Hal tersebut diungkapkannya dalam Rapat Terbatas mengenai Penanganan Pandemi COVID-19 dan Rencana Pelaksanaan Vaksinasi, Rabu (06/11/2021), di Istana Negara, Jakarta. Rapat ini juga diikuti secara virtual oleh para Gubernur di seluruh Indonesia.

Secara rinci, dikutip Kontan.co.id vaksin yang dipesan tersebut adalah 3 juta dosis yang sudah tiba di Tanah Air ditambah 122,5 juta dosis lagi dari Sinovac, kemudian dari Novavax sebanyak itu 50 juta dosis, dari COVAX/Gavi sejumlah 54 juta dosis, dari AstraZeneca 50 juta dosis, dan dari Pfizer sejumlah 50 juta dosis vaksin.

"Artinya, jumlah totalnya yang sudah firm order itu 329,5 juta, hanya pengaturannya nanti akan dilakukan oleh Menteri Kesehatan,” ujar Presiden.

Lebih lanjut diungkapkan Kepala Negara, pemerintah akan memulai program vaksinasi pada pekan depan. Terkait hal tersebut juga telah dilakukan distribusi vaksin ke daerah-daerah sejak beberapa hari yang lalu.

“Itu baru tahapan pertama. Target kita nantinya untuk bulan Januari itu 5,8 juta vaksin harus masuk ke daerah. Bulan Februari itu 10,45 juta vaksin harus didistribusikan lagi ke daerah. Kemudian bulan Maret 13,3 juta vaksin juga harus terdistribusi dan bisa dilaksanakan vaksinasinya oleh daerah-daerah,” papar Presiden.

Untuk itu, Kepala Negara meminta para kepala daerah untuk melakukan pengecekan dan mengontrol persiapan pelaksanaan vaksinasi tersebut.

Kepala Negara juga kembali mengingatkan pentingnya penerapan protokol kesehatan 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan) dalam menghadapi pandemi ini. Disebutkannya bahwa, hasil survei mengindikasikan adanya penurunan motivasi untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan.

“Oleh sebab itu, saya minta kepada para Gubernur agar mengencarkan kembali masalah yang berkaitan dengan kedisiplinan protokol kesehatan, disiplin terhadap protokol kesehatan,” tegasnya.

Lebih lanjut Presiden menyampaikan, keberhasilan dalam menangani penanganan pandemi COVID-19 akan menjadi penentu untuk pulih dan bangkit kembali.

Untuk itu, imbuhnya, strategi pemerintah dalam menangani pandemi ini tetap sama, yaitu mencakup penanganan kesehatan, program perlindungan sosial, dan program pemulihan ekonomi.

“Kunci bagi pemulihan ekonomi kuncinya adalah bagaimana kita bisa berusaha keras, bekerja keras, dalam rangka bisa menghentikan dan mengendalikan COVID-19,” pungkasnya.