Pengamat Soal Penyebab Jatuhnya Sriwijaya Air: Bukan Cuaca Buruk, Sistem Kendali Pesawat Bermasalah 

Safari
Pengamat Soal Penyebab Jatuhnya Sriwijaya Air: Bukan Cuaca Buruk, Sistem Kendali Pesawat Bermasalah 
Ilustrasi pesawat Sriwijaya Air sedang berada di udara (ist)

Jakarta, HanTer - Apa penyebab jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak di perairan Pulau Seribu, Jakarta, Sabtu (9/1/2021)? Berbagai pendapat disampaikan sejumlah pengamat transportasi, penyebabnya antara lain karena faktor cuaca buruk, human error, teknis  atau usia pesawat.

Pengamat Penerbangan Alvin Lie menegaskan jatuhnya Sriwijaya Air, tidak berkaitan dengan usia pesawat jatuh. Alasannya, walaupun pesawat Sriwijaya Air usianya sudah 26 tahun, tapi jika perawatannya baik maka tidak ada masalah. 

"Kemudian pesawat ini juga pernah dikandangkan oleh Sriwijaya antara 23 Maret sampai tanggal 23 Oktober, tahun lalu. Setelah itu sudah aktif lagi terbang," kata Alvin dalam wawancara dengan CNN Indonesia TV, Sabtu (9/1/2021).

Berdasarkan grafik kecepatan dan informasi lainnya, pesawat Sriwijaya Air SJ 182 kehilangan ketinggian secara drastis. "Pesawat kehilangan ketinggian secara drastis pada ketinggian 10 ribu kaki, sedangkan kecepatan vertikal atau kecepatan turunnya mendekati 30 ribu kaki per menit. Jadi kalau ada di ketinggian 10 ribu kaki, pesawat terhempas ke permukaan hanya butuh sepertiga menit atau 20 detik," imbuh Alvin. 

Kemungkinan besar, lanjut Alvin, ketika pesawat turun, kehilangan ketinggian sedemikian cepat, pesawat sudah tidak dapat dikendalikan. Jika ditanya soal kemungkinan penyebab pesawat jatuh, Alvin mengungkapkan kemungkinan cuaca buruk tidak dapat jadi alasan.

"Untuk unsur cuaca, rasa-rasanya nggak segitunya (pesawat sampai kehilangan ketinggian drastis) karena di saat yang sama banyak pesawat melakukan penerbangan di wilayah yang sama," jelasnya.

Kemungkinan lain, pesawat mengalami masalah dengan sistem kendali. Kalau masalah terjadi pada mesin, kondisi jatuhnya pesawat tidak akan seperti yang dialami Sriwijaya Air SJ182.

Alvin menjelaskan jika mesin bermasalah, pesawat masih bisa melayang, begitu pula jika dua mesin mati. Pesawat masih bisa melayang dan dikendalikan untuk mendarat darurat.

Alvin juga sempat mengecek tidak ada may day call atau panggilan darurat. Pilot pun tidak melaporkan kerusakan atau kondisi darurat ke pihak air traffic controller (ATC) atau pengatur lalu lintas penerbangan. "Kemungkinan ini terjadi sedemikian cepat dan mendadak, sehingga pilot tidak sempat berbuat apa-apa," imbuhnya.

Tidak Masalah

Praktisi hukum Ricky Vinando menilai, umur pesawat Sriwijaya Air yang jatuh di Perairan Kepulauan Seribu semestinya bukan menjadi masalah, asalkan dirawat sesuai standard otoritas penerbangan.

"Berdasarkan analisa saya jatuhnya pesawat itu karena faktor cuaca buruk yaitu awan cumulonimbus hingga memaksa pilot menurunkan ketinggian pesawat dari 30.000 kaki menjadi 250 kaki. Dulu Garuda Indonesia pada Januari 2002 juga pernah harus turun dari ketinggian 32.000 kaki sampai harus mendarat darurat di air karena ada awan cumulonimbus, tapi waktu itu berhasil mendarat dengan selamat,” papar Ricky. 

Begitu juga dengan Lion Air JT- 904 pada 2013 juga jatuh ke perairan di Bali akibat menembus awan cumulonimbus. “Jadi dengan ada awan paling berbahaya, awan Cb atau cumulonimbus, maka secara hukum indikasi kelalaian operasikan pesawat tua harus dikesampingkan," tutup Ricky.

Kesalahan Manusia

Sementara itu, pengamat penerbangan Budhi Muliawan Suyitno mengungkap sejumlah kemungkinan penyebab jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 . Mantan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) itu menjelaskan penyebabnya bisa karena murmi kesalahan manusia (human error), teknis atau masalah cuaca.

“Kita harus berpikir sebagai investigator kira-kira dugaan apa yang paling memungkinkan. Bisa saja karena faktor kesalahan manusia (human error). Bisa juga karena teknik yang diawali oleh manusia dan yang lainnya karena cuaca,” ujar mantan Menteri Perhubungan di era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), ketika dihubungi, Minggu (10/1/2021).

Untuk menentukan penyebab jatuhnya pesawat Sriwijaya rute Jakarta-Pontianak itu, menurut dia, harus melihat secara keseluruhan karena bukti-bukti yang ditemukan dari lapangan masih sangat minim. Namun kata dia, kalau melihat data awalnya, pesawat Sriwijaya yang jatuh ini sudah beroperasi sejak lebih dari 26 tahun yang lalu. Selain itu bisa diketahui dari track record pesawat tersebut dari pengoperasiannya dari catatan perawatannya secara konsisten dilakukan atau tidak.

 “Apalagi selama pandemi ini banyak pesawat-pesawat yang grounded, pesawat-pesawat yang tinggalnya di lapangan, tidak beroperasi. Apakah waktu dioperasikan kembali telah memenuhi persyaratan kelayakan udara dan perawatan,” tegasnya.

Hal ini kata dia, bisa dicek dibuku perawatan dan pengoperasian pesawat.
Begitu juga imbuh dia, bisa dicek training terakhir yang dilakukan oleh pilot pesawat yang menerbangkan Sriwijaya Air SJ182. “Jadi masih sangat luas sekali dugaannya,” jelasnya. 

#Kecelakaan   #pesawat   #sriwijaya   #knkt   #basarnas   #tni   #polri