Ini Alasan Identifikasi Korban Sriwijaya Air Tak Bisa Diburu-buru

yp
Ini Alasan Identifikasi Korban Sriwijaya Air Tak Bisa Diburu-buru
Petugas membawa kantong jenazah yang akan dikirim ke RS Polri Kranatjati./foto: instagram tni_angkatan_laut

Kabid Pusdokkes Polri, Kombes Ahmad Fauzi, mengatakan belum mengetahui 16 kantong jenazah yang diterimanya terdiri dari potongan tubuh atau tubuh yang utuh karena ia baru saja datang dan belum melihatnya. Ia juga mengatakan ada tahap yang harus diikuti hingga tak bisa memastikan bisa tidaknya teridentifikasi bila potongan tubuh baru ditemukan seminggu setelah kejadian. 

Ia menegaskan tim tidak bekerja tergantung dari target waktu. "Tidak ada (target waktu), DVI yang penting itu ketetapan bukan kecepatan. Jangan sampai kita buru-buru malah salah identifikasi," ujarnya. 

Ia meminta masyarakat, khususnya keluarga korban, untuk bersabar. "Jangan sampai kita di buru-buru nanti justru salah identifikasi," katanya. 

Menurutnya, DVI bekerja menurut tahapannya. Mulai dari mengumpulkan data ante mortem, yaitu data korban semasa hidup termasuk warna rambut dan pakaian atau asesoris yang dikenakan terakhir kali. 

Tahap selanjutnya pemeriksaan data post mortem yang didapat dari potongan tubuh dan pakaian atau asesoris yang ditemukan. Setelah itu baru proses pencocokan. "Sabar saja," pintanya. 

Sriwijaya Air SJ182 jatuh di perairan Kepulauan Seribu, Sabtu (9/1/2021) usai empat menit lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta. Pesawat dengan 62 manifest itu bertujuan ke Pontianak. (yp)