Ini Cara Afwan Menemukan Surga

US
Ini Cara Afwan Menemukan Surga
Ungkapan Kapten Pilot Afwan "Setinggi apapun aku terbang, tidak akan mencapai surga bila tidak Sholat Lima Waktu." menjadi pesan terakhir sebelum tragedi jatuhnya Sriwijaya Air SJ-182

"Setinggi apapun aku terbang, tidak akan mencapai surga bila tidak Sholat Lima Waktu."  Kalimat tersebut berasal dari photo profil nomor WA yang di pakai Kapten Afwan, Pilot Sriwijaya Air yang mengalami musibah Sabtu lalu. Ungkapan Kapten Pilot Afwan itu juga bukan sekadar slogan, tetapi benar-benar dijalankan. Sehingga seorang saksi menggambarkan sosok Afwan, lebih baik terlambat terbang daripada terlambat sholat.

Kalimat itu beredar luas di grup-grup WA sebagai ungkapan Kapten Pilot Afwan sesaat setelah musibah yang menimpa Peswat dengan nomor register PK-CLC SJ 182 rute Jakarta-Pontianak hilang kontak pada  Sabtu (9/1) pukul 14.40 WIB, dan jatuh di perairan Kepulauan Seribu diantara Pulau Lancang dan Pulau Laki.

Ucapan kapten pilot berusia 57 tahun itu beredar dalam beberapa versi. Ada yang bergambar seorang lelaki dengan kostum superman dan ada pula gambar kapten Afwan yang mengenakan pakaian gamis gelap lengkap dengan pecinya. Sungguh menggambarkan sosok Afwan yang taat beragama. 

Ternyata tidak hanya kata-kata dalam photo profil itu saja yang menandai sang pilot sebagai seorang muslim taat. Setelah musibah pesawat Sriwijaya Air jenis Boeing 737-500 hilang kontak, juga beredar luas video ceramah Kapten Afwan di rumah warga dengan durasi 47 detik. Penampilan kapten Afwan juga berpakaian gamis lengkap berwarna gelap dengan peci haji warna putih. Tampak ia memegang microfon kecil untuk membantu suaranya agar terdengar jamaah. 

Kapten Afwan dikenal sangat baik di lingkungan rumahnya komplek perumahan Bumi Cibinong Endah, Bogor, Jawa Barat. Saat tidak terbang ia selalu sholat berjamaah di masjid dekat rumah, menyapa tetangga saat pulang dari masjid dan mengikuti kegiatan warga sekitarnya.

Kini, keluarga dan juga warga Cibonong Endah tak bisa lagi mendengar sapa akrab dan kedermawanan mantan penerbang TNI AU itu. Mereka tinggal bisa mengenang kebaikan Afwan. Pesawat yang  diterbangkan sang pilot sejak take off dari Bandara Soekarno Hatta pukul 14.36 WIB, empat menit kemudian hilang kontak di posisi 11 nautical mile utara Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang. Pesawat sempat melewati ketinggian 11.000 kaki dan pada saat menambah ketinggian di 13.000 kaki hilang dari radar.

Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsma Indan Gilang, menyebut kapten Afwan adalah penerbang TNI AU periode 1987-1998, beliau terbang di Skadron Udara 4 dan Skadron Udara 31. Alumni dari IDP IV tahun 1987," ujarnya. 

Afwan pernah berkarier di Skadron Udara 4 dan Skadron Udara 31. Skadron Udara 4 merupakan satuan udara angkut ringan di bawah jajaran Wing Udara 2, Komando Operasi Angkatan Udara II yang bernaung di bawah Lanud Abdulrachman Saleh Malang, Jawa Timur. Skadron ini mengoperasikan pesawat C-212 Casa seri 200. Sedangkan Skadron Udara 31 berada di bawah komando Lanud Halim Perdanakusuma. Skadron ini mengoperasikan pesawat angkut berat Hercules.