Denjaka, Bajak Laut Disikat, Operasi Kemanusiaan Siap

us
Denjaka,  Bajak Laut Disikat, Operasi Kemanusiaan Siap
Petugas TNI AL bersama aparat lain berkoordinasi dalam pencarian korban Sriwijaya Air./foto: instagram tni_angkatan_laut

JAKARTA - Setiap terjadi kecelakaan pesawat, terutama yang jatuh ke laut, pasukan khusus TNI Angkatan Laut (AL) Detasemen, Jalamangkara (Denjaka) selalu dilibatkan.

 Denjaka ini pada dasarnya merupakan pasukan elit TNI AL dalam penanggulangan teror di laut. Tetapi tugas TNI tidak hanya perang dan penanggulangan teror yang mengancam kedaulatan. UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI mengatur adanya operasi militer selain perang (OMSP). Kali ini, Denjaka melakukan operasi kemanusian OMSP.

Detasemen Jalamangkara beberapa kali terlibat menangani musibah kecelakaan pesawat di laut. Misalnya saja musibah kecelakaan yang dialami pesawat Lion Air JT-610 pada 29 Oktober 2018. Begitu juga musibah kali ini yang menimpa pesawat Sriwijaya Air SJ-182, Sabtu (9/1/2021). 

Untuk operasi militer yang pernah dilakukan Denjaka diantaranya ketika menghajar bajak laut Somalia yang merompak kapal NV Sinar Kudus di perairan Laut Arab 16 Maret 2011. Setelah otoritas Somalia mengizinkan, operasi militer digelar. Didukung dua kapal fregat KRI Abdul Halim Perdanakusuma-355 dan KRI Yos Sudarso-353.  Selain itu juga satu kapal LPD KRI Banjarmasin-592 dan satu helikopter, “sea riders” dan LCVP. 

Tidak mudah menghadapi bajak laut Somalia yang membawa 8 kapal dengan sekitar 600 milisi bersenjata AK 47 dan RPG tersebut. Operasi Denjaka berhasil menyelamatkan 20 ABK Sinar Kudus yang pembawa fero-nikel berbobot 8.911 ton menuju Rotterdam Belanda. Beberapa perompak tertembak dan kapal-kapalnyapun ada yang ditenggelamkan.

Denjaka merupakan satuan antiteror yang mulai dibentuk melalui Surat Keputusan Kasal No.Skep/2848/XI/1982 tertanggal 4 November 1982. Personel Denjaka terdiri dari 70 anggota terbaik gabungan yang semula bertugas di satuan pasukan khusus TNI AL, yakni Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan Intai Amfibi Marinir (Taifib).

Personel Denjaka merupakan tentara pilihan yang dituntut menguasai tiga medan, darat, laut dan udara. Mereka harus mampu bertahan hidup di hutan tanpa bekal apapun, terjun dari ketinggian dan lincah di lautan. Untuk lolos menjadi personel Denjaka harus melalui uji fisik dan mental yang sangat berat. Salah satunya dia harus mampu melepaskan diri dalam kondisi tangan dan kaki terikat dan dilempar ke tengah laut lepas di tengah malam. Ketangguhan mereka disetarakan 1:120 kemampuan tentara biasa. 

Tak mengherankan ketika ada satu anggota bermasalah di tahun 2005 bernama Suud Rusli (taifib), dalam kondisi tangan dan kaki dirantai pun bisa lolos dua kali dari tahanan militer. Sehingga saat tertangkap lagi, untuk membawa Suud,  karena takut meloloskan diri semua pakaian dilepas hanya tersisa celana dalam, kaki tangan dan leher diikat. Perlakuan ini memicu keprihatinan petinggi TNI AL agar memperlakukan Suud layaknya manusia.  "Ini tak ubahnya perlakuan terhadap binatang. Ini yang kita sesalkan," tegas Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama Abdul Malik Yusuf, kala itu. 

Soal kemampuan personel Denjaka taka da yang meragukan. Tidak mengherankan saat latihan bersama dengan pasukan elit negara lain, seperti anggota Navy SEAL AS, mereka bergidik dan geleng-geleng kepala melihat kenekatan personel Denjaka yang ekstrem dan berbahaya itu. 
Dukungan peralatan pasukan ini juga tidak main-main dalam operasi. Mereka dibekali antara lain submachine gun MP5, HK PSG1, Daewoo K7, senapan serbu G36, HK416, M4, Pindad ss-1, CZ-58, senapan mesin ringan Minimi M60, Daewoo K3, serta pistol Beretta, HK P30 dan SIG Sauer 9 mm. Tentu saja setiap saat terus berkembang sesuai dengan perkembangan tantangan.(us)