Pengamat Duga Istana Berusaha Obok-obok Parpol dan Ormas

Safari
Pengamat Duga Istana Berusaha Obok-obok Parpol dan Ormas
Ilustrasi

Jakarta, HanTer-- Pengamat politik dari Institute for Strategic and Development (ISDS) Aminudin mengatakan, bukan sesuatu yang aneh ada pejabat tinggi yang mengobok-obok parpol dan ormas. Selain itu kelompok kritis juga dibabat habis. Hal ini terlihat ketika Amien Rais berhasil digencet dari PAN.

“Sebelum rakyat bergerak maka hentikan upaya membangun diktatorisme di Indonesia. Mengutip pernyataan Dr. Rizal Ramli yakni jika jatuh nanti sakit. Karena semua rezim diktator yang gagal maka ujungya akan menderita seperti Reza Pahlavi di Iran, Marcos di Philipina, Chon do Hwan di Korsel, dan lainnya,” kata Aminudin.

Sementara itu, Ketua Badan Relawan Nusantara (BRN) Edysa Tarigan Girsang mengatakan, jika benar Istana mengobok - ngobok parpol oposisi maka hal ini menjelaskan bahwa rezim saat ini seakan memunculkan watak otoritariannya, anti demokrasi dan tak ingin penyehatan organisasi publik. Artinya ada yang disembunyikan dan tak ingin publik (rakyat) melakukan kritik terhadap rezim saat ini.

Edysa menilai, bahaya suatu negara tanpa kontrol publik. Karena imbasnya negara tersebut akan otoritarian. Oleh karena itu sebelum terlanjur maka hentikan politik kooptasi. Sehingga demokrasi berjalan sesuai aturan yang berlaku. "Biarkan kritik sebagai alat membangun negeri ini, jika tak mampu ya lempar handuk putih saja," paparnya. 

Parpol Oposisi

Terpisah, Direktur Rumah Politik Indonesia (RoI Indonesia), Fernando Ersento Maraden Sitorus mengatakan, kalau pada saat periode pertama pemerintahan Jokowi memang sangat terlihat memainkan parpol oposisi. Hal itu dilakukan untuk mendapat dukungan dari parpol dengan cara memenangkan calon yang didukung oleh pemerintah. Parpol yang diobok-oboknya yakni Partai Golkar dan PPP yang pada saat Pilpres 2014 tidak memilih Jokowi karena untuk kepentingan dukungan politik di DPR.

"Namun periode kedua ini sepertinya pemerintah tidak ikut campur dalam perpecahan parpol ataupun ormas," ujar Fernando kepada Harian Terbit, Senin (1/2/2021).

Fernando memaparkan, adanya kisruh di Partai Demokrat karena ada oknum yang sedang berusaha untuk menjatuhkan AHY. Hal itu berdasarkan apa yang sudah disampaikan AHY adanya gerakan dari kader dan mantan kader Partai Demokrat. Oknum itu ingin menjatuhkan AHY karena ketidakpuasan. Apalagi oknum itu mungkin merasa sebagai pendiri namun tidak lagi dilibatkan dalam kepengurusan.

"Saya melihat ini akibat ketidakpuasan dari kader yang mungkin merasa sebagai pendiri namun tidak lagi dilibatkan dalam kepengurusan.
Atau sebagai kader yang merasa habis manis sepah dibuang karena begitu menghadapi kasus korupsi malah ditinggalkan oleh partai," paparnya.

Gerakan

Ketum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyebut ada gerakan merebut paksa Partai Demokrat yang dilakukan orang lingkaran Presiden Joko Widodo (Jokowi). Oleh sebab itu, AHY pun menyurati Jokowi guna mencari konfirmasi terkait adanya orang lingkaran Istana.

"Menurut kesaksian dan testimoni banyak pihak yang kami dapatkan, gerakan ini melibatkan pejabat penting pemerintahan yang secara fungsional berada di dalam lingkar kekuasaan terdekat dengan Presiden Joko Widodo," kata AHY dalam konferensi pers di DPP Partai Demokrat, Jalan Proklamasi, Jakpus, Senin (1/2/2021).