Telat Guyur Bansos, 32 Juta UMKM Bangkrut Massal

Alee
Telat Guyur Bansos, 32 Juta UMKM Bangkrut Massal
Ilustrasi pedagang sembako

Jakarta, HanTer - Menurunnya daya beli masyarakat akibat pandemi Covid-19 sebanyak 32,5 juta UMKM alami kebangkrutan. Kebangkrutan UMKM juga disebabkan lambannya penanganan yang tidak segera mengguyur bansos tunai langsung ke rakyat miskin.

“Masih banyak salah sasaran dari ratusan triliun bansos dan stimulus ekonomi bagi UMKM. Juga akibat beban ekonomi rakyat sangat berat diantaranya tingginya suku bunga dan kredit leasing kendaraan roda dua atau barang konsumtif,” kata Ketua Umum Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) dr Ali Mahsun Atmo, M.Biomed kepada Harian Terbit, Senin (5/4/2021).

Menurut Presiden Gumregah Bakti Nusantara (GBN) ini, pada bulan Juli 2020, Asian Development Bank (ADB) menyampaikan 48,6% UMKM di Indonesia telah mengalami kebangkrutan. Sekitar 32 juta UMKM bangkrut dan dampaknya sangat luar biasa. Data terbaru saat ini, 50,5% UMKM bangkrut, sebesar 35% sisanya terancam kebangkrutan. 

“Secara the riil ekonomi rakyat hari ini hanya sekitar 15% UMKM yang bertahan dan 4% alami perkembangan. Lebih dari itu, pilar utama dari pertumbuhan ekonomi negeri ini adalah hal-hal yang sifatnya konsumtif. Dan saat ini ekonomi dilevel bawah hanyalah kuliner dan usaha dibidang sektor kebutuhan pokok, serta pertanian dan perikanan. Yang lain ambruk semisal home industri dan dunia wisata,” papar Ali Mahsun.

Ketua Umum Primnaskop Gumregah Sakti Nusantara (GSN) ini menyatakan, realitas ini tidak boleh dibiarkan terlalu lama bisa timbulkan dampak yang sangat signifikan terkait kebutuhan dasar rakyat, serta ancaman terjadinya sebuah realitas sosial yang pada ujung dan akhirnya sulit dikendalikan. 

Oleh karena itu, lanjut Ali, harus ada langkah-langkah super keras, langkah super gila atau langkah ‘Sontoloyo’. Yaitu lima langkah yang merupakan satu kesatuan yang harus dilakukan super cepat dan tepat sasaran oleh semua pemangku kepentingan, pemerintah, swasta, pelaku ekonomi rakyat dan kekuatan elemen bangsa.

Pertama, seluruh pelaku UMKM dan sektor informal harus memperkokoh dan merapatkan barisan, saling mendukung dan gotong royong untuk bersama-sama gerakkan roda ekonomi.

Kedua, seluruh rakyat dan bangsa ini harus saling membantu dan mendukung, serta kembali ke menggalakkan membeli dan jajan diwarung tetangga sendiri. 

Ketiga, segenap kelompok menengah ke atas, sudah waktunya untuk tidak menahan diri. Sudah waktunya bersama rakyat menggerakkan ekonomi dilevel paling bawah.

Ke-empat, ditengah semakin turunnya daya beli masyarakat, Presiden RI Joko Widodo harus mengambil kebijakan tegas dan pasti. Yaitu, (1). Bansos secara keseluruhan harus bantuan langsung tunai (BLT), serta diguyur super cepat dan tepat sasaran ke rakyat miskin sehingga geliat UMKM dan informal dapat menuju perbaikan, memutihkan BI Checking, menurunkan suku bunga, serta memutihkan bunga-bunga kredit tertunggak yang membebani ekonomi rakyat termasuk pemutihan bunga kredit leasing kendaraan roda dua. 

Keempat, memperlonggar dan mempermudah persyaratan KUR, Program Kemitraan BUMN dan Dana Bergulir LPDP KUMKM sehingga uang produktif atau capital produktif terguyur hingga ke level ekonomi paling bawah. 

Kelima, Rakyat, pelaku UMKM dan sektor informal harus diberi kesempatan seluas-luasnya dengan tetap mentaati protokoler Kesehatan covid-19. 

#Bansos   #umkm   #covid-19