Mantan Pentolan JI: Terorisme Terjadi Akibat Gagal Paham

yp
Mantan Pentolan JI: Terorisme Terjadi Akibat Gagal Paham
Nasir Abbas, mantan Ketua Jamaah Islamiyah (JI) wilayah Timur. (ist)

JAKARTA - Mantan Ketua Jamaah Islamiyah (JI) wilayah Timur, Nasir Abbas, menilai pelaku penyerangan di Mabes Polri dan suami istri pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral di Makassar memiliki kesamaan. Mereka dianggapnya sama bersikap intoleransi karena gagal paham terhadap ajaran. 

Zakiah Aini tewas ditembak polisi saat menyerang Mabes Polri pada 31 Maret 2021. Membawa pistol, ia melepas enam tembakan sebelum ambruk kena tembak. 

Beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada 28 Maret 2021, suami istri melakukan bom bunuh diri di pintu Gereja Katedral di Makassar, Sulawesi Selatan. Sebanyak 20 orang luka. 

Dalam dua kasus itu, pelaku meninggalkan surat wasiat kepada keluarga. 

"Suami istri di Makassar dan Zakiah Aini mereka melewati (rekrutmen) dan dari surat wasiatnya kita tahu mereka gagal paham.  Ada intoleransi," ujar Nasir Abbas dalam diskusi virtual yang digelar Universitas Borobudur di Jakarta, Selasa (6/4/2021).

Menurutnya, media sosial (medsos) membuat Zakiah Aini mudah mendapatkan materi paham terorisme. Namun lajang 25 tahun itu menelan bulat-bulat pemahaman yang diperolehnya hingga membuatnya melakukan aksi terorisme. 

"Zakiah Aini apa yang dibaca dan dia tonton di medsos. Sehingga dia gagal paham. Melakukan aksi siap untuk mati,” ujarnya. 

Nasir Abbas mengajak masyarakat untuk tidak terjerat materi propaganda yang diberikan kelompok radikal. Setiap kabar yang didapat dari media sosial mesti dipastikan kebenarannya.bhinneka

“Saat masyarakat tidak pandai menyaring, dan tertarik dengan hujjah yang mereka berikan ini akan terbawa oleh arus,” ujarnya.

Untung Sumarwan, Kriminolog dari Universitas Budi Luhur. (ist) 

Sementara itu,  Untung Sumarwan, dosen kriminologi Universitas Budi Luhur. Ia menyebut bahwa terorisme pada dasarnya merupakan suatu perbuatan atau tindakan berupa kekerasan ataupun ancaman kekerasan yang menimbulkan korban jiwa, kerusakan objek vital atau fasilitas umum

Tidak ada definisi yang sama di antara negara di manapun karena masing-masing memiliki kepentingan yang berbeda antara satu negara dan negara lain. Tetapi di Indonesia batasannya adalah Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme khususnya pasal 6. 

"Pasti akan berbeda dengan negara lain, Indonesia dan Singapura pernah punya sejarah saat parjurit KKO Usman-Harun menjalankan misi dan tertangkap. Bagi negara sasaran itu musuh, teroris  tetapi bagi Indonesia keduanya adalah pahlawan karena memang menjalankan tugas negara, makanya kita punya KRI Usman Harun," katanya. (*/yp)